TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Setelah pembangunan fisik rampung, Pemerintah Kabupaten Berau kini memusatkan perhatian pada tahap pengembangan substansi Museum Batu Bara di Kelurahan Teluk Bayur. Museum tersebut diproyeksikan tidak hanya menjadi ruang penyimpanan artefak, tetapi juga pusat edukasi yang merekam perjalanan sejarah pertambangan batu bara di Berau.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menilai keberadaan bangunan saja belum cukup untuk menjadikan museum sebagai destinasi yang menarik bagi masyarakat dan wisatawan. Karena itu, upaya pengisian materi pameran menjadi prioritas utama sebelum museum difungsikan secara penuh.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan saat ini pihaknya tengah menyusun langkah percepatan untuk menghadirkan konten yang mampu memberikan pengalaman edukatif bagi pengunjung.
“Secara fisik bangunan sudah selesai. Sekarang fokus kami adalah memastikan museum memiliki cerita, koleksi, dan informasi yang cukup sehingga nantinya benar-benar layak menjadi tujuan kunjungan,” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Disbudpar mulai menjajaki kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan tambang yang beroperasi di Kabupaten Berau. Keterlibatan sektor industri dinilai penting untuk menghadirkan koleksi yang merepresentasikan perkembangan pertambangan di daerah tersebut.
“Kami ingin membuka ruang kolaborasi dengan perusahaan tambang agar mereka ikut mengambil peran dalam melengkapi ruang pamer. Harapannya, museum ini bisa menampilkan perjalanan industri batu bara secara lebih utuh,” katanya.
Selain menghimpun kontribusi perusahaan, Disbudpar juga menargetkan penguatan narasi sejarah melalui pengumpulan berbagai dokumen pendukung. Penelusuran akan dilakukan terhadap arsip, foto, catatan, hingga bahan visual yang menggambarkan sejarah pertambangan batu bara sejak awal berkembang di Berau.
“Yang ingin kami hadirkan bukan sekadar benda, tetapi juga rekam jejak sejarahnya. Kami sedang menginventarisasi berbagai dokumen dan sumber informasi yang dapat menjelaskan bagaimana aktivitas pertambangan berkembang dari masa ke masa,” jelasnya.
Pencarian data tersebut juga diarahkan ke lembaga penyimpanan arsip nasional. Disbudpar membuka kemungkinan menelusuri koleksi yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), termasuk materi visual maupun dokumen yang memiliki keterkaitan dengan sejarah pertambangan di Teluk Bayur.
“Kalau memang diperlukan, kami akan menelusuri sumber arsip yang lebih luas. Bisa saja ada foto, rekaman, atau dokumen penting yang dapat memperkaya pengalaman pengunjung saat datang ke museum,” ungkapnya.
Tidak menutup kemungkinan, pencarian referensi sejarah juga diperluas hingga ke luar negeri untuk memperoleh dokumen yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan era kolonial.
Disbudpar menargetkan proses pengisian museum dapat berjalan tahun ini sehingga fasilitas tersebut mulai dapat dimanfaatkan masyarakat meskipun penyempurnaan koleksi tetap dilakukan secara bertahap.
“Nantinya, pengelolaan museum juga tengah dikaji dengan sejumlah skema, termasuk peluang melibatkan kelompok masyarakat dan pelaku pariwisata agar operasional museum berjalan berkelanjutan,” kuncinya.
Museum Batu Bara sendiri memanfaatkan bangunan eks Kantor Camat Teluk Bayur yang direvitalisasi menjadi ruang pelestarian sejarah sekaligus sarana edukasi mengenai jejak industri pertambangan di Kabupaten Berau. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





