TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemkab Berau meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering yang dipengaruhi fenomena El Niño.
Kondisi tersebut berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih.
Dalam kesempatannya, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengimbau seluruh masyarakat, pemerintah kecamatan hingga kampung, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca yang semakin panas dan kering.
Imbauan tersebut tertuang dalam surat Nomor 300.2.3/580/BPBD tentang Peningkatan Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi Kering di Kabupaten Berau.
Sri mengatakan, langkah pencegahan perlu dilakukan sejak dini dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Terlebih, berdasarkan informasi prakiraan cuaca dan iklim BMKG, terdapat kecenderungan penurunan curah hujan, peningkatan suhu udara serta bertambahnya hari tanpa hujan di sejumlah wilayah, termasuk Berau.
“Kita harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan bersama. Jangan sampai kondisi cuaca panas dan kering justru memicu kebakaran hutan dan lahan yang dapat berdampak luas terhadap masyarakat dan lingkungan,” ujar Sri Juniarsih.
Ia menegaskan, masyarakat tidak diperbolehkan membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan pembakaran sampah, semak belukar dan vegetasi kering yang berpotensi memicu kebakaran.
Selain itu, pemerintah kecamatan, kelurahan dan kampung diminta meningkatkan patroli serta pemantauan di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
Lanjutnya, langkah tersebut juga diharapkan dilakukan perusahaan perkebunan, kehutanan, pertambangan dan sektor usaha lainnya bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) maupun Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat (TKTD).
Khusus bagi perusahaan, Bupati Sri meminta seluruh tim tanggap darurat atau Emergency Response Team (ERT) diaktifkan. Sarana dan prasarana pemadaman juga harus dipastikan dalam kondisi siap digunakan, termasuk sumber air, pompa pemadam, alat komunikasi, kendaraan operasional dan peralatan pendukung lainnya.
“Perusahaan juga harus memastikan peralatan penanggulangan kebakaran benar-benar siap, kemudian melakukan patroli secara berkala di area yang rawan. Pencegahan jauh lebih baik daripada kita menangani kebakaran yang sudah meluas,” tegasnya.
Di sisi lain, Sri meminta masyarakat mulai melakukan penghematan penggunaan air bersih serta menjaga sumber-sumber air yang tersedia. Upaya tersebut menjadi bagian penting untuk mengantisipasi potensi kekeringan apabila periode tanpa hujan berlangsung lebih lama.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan menghindari aktivitas yang dapat menimbulkan percikan api, seperti membuang puntung rokok sembarangan, pembakaran terbuka maupun penggunaan peralatan yang berpotensi memicu kebakaran saat kondisi cuaca panas dan kering.
Apabila menemukan titik api, kepulan asap atau indikasi awal kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada BPBD Berau, pemerintah kecamatan, pemerintah kampung atau kelurahan, TNI, Polri maupun instansi terkait agar dapat segera ditangani.
Sri juga mengingatkan agar keselamatan menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran. Masyarakat diminta tidak melakukan pemadaman secara mandiri apabila api sudah membesar atau kondisi dinilai membahayakan.
“Saya berharap seluruh pihak dapat meningkatkan koordinasi dan saling bersinergi. Pemerintah, dunia usaha, TNI, Polri, relawan dan masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah dan menghadapi bencana hidrometeorologi kering ini,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




