TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemkab Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau kembali menggelar Maratua Music Festival (M2F) 2026 dengan konsep yang lebih lengkap dan berwarna.
Tak hanya menghadirkan hiburan musik, festival yang akan berlangsung selama lima hari di Pulau Maratua ini juga mengusung misi pelestarian budaya, konservasi lingkungan, hingga promosi destinasi wisata kelas dunia.
Hal tersebut terungkap dalam konferensi pers yang digelar Disbudpar Berau bersama Event Organizer (EO) Mata Sanggam di Hotel Palmy Exclusive, Jumat (12/6/26).
Dalam kesempatannya, Kepala Disbudpar Berau, Yuda, mengatakan M2F merupakan salah satu agenda strategis daerah untuk menggabungkan kekuatan seni musik, seni budaya, dan pariwisata dalam satu rangkaian kegiatan yang mampu menarik perhatian wisatawan.
“Kami ingin memadukan seni musik dengan seni budaya sebagai identitas daerah. Jadi bukan hanya hiburan semata, tetapi juga menjadi ruang promosi budaya dan pariwisata Kabupaten Berau, khususnya Pulau Maratua,” ungkapnya.
Menurutnya, festival ini akan berlangsung mulai 30 Juni sampai 4 Juli dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pelaku seni, UMKM, komunitas budaya hingga sektor pariwisata.
Selain pertunjukan musik, panitia juga akan menggelar sejumlah kegiatan pendukung seperti aksi bersih pantai, penanaman pohon, dan berbagai aktivitas yang mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara itu, Ketua EO Mata Sanggam, Morten, menjelaskan bahwa konsep M2F tahun ini dibuat berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Selama lima hari penuh, pengunjung akan disuguhi berbagai kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari.
“Konsep tahun ini lebih lengkap. Musik memang menjadi daya tarik, tetapi yang paling utama sebenarnya adalah promosi wisata dan budaya Maratua. Karena itu kami menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal,” jelasnya.
Pada hari pertama, festival akan dibuka dengan pelatihan kulintang, bazar UMKM yang melibatkan perwakilan dari 13 kecamatan, pelaku ekonomi kreatif, Dekranasda, hingga pelaku usaha wisata dan resort di Maratua.
Selain itu, akan digelar lomba karaoke berbahasa Bajau bertajuk “Maratua Magdendang” serta lomba tari tingkat Kecamatan Maratua. Festival budaya khas masyarakat Bajau juga akan menjadi bagian dari pembukaan acara melalui ritual adat yang saat ini masih dikoordinasikan bersama para tokoh adat setempat.
Memasuki hari ketiga, panggung hiburan akan mulai diramaikan oleh penampilan band-band lokal. Pengunjung juga akan disuguhkan pertunjukan musik sape sebagai upaya memperkenalkan keragaman budaya yang ada di Berau kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Maratua bukan hanya tentang pantai dan laut, tetapi juga memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Karena itu unsur budaya lokal tetap menjadi bagian utama dalam festival ini,” kata Morten.
Puncak kegiatan akan berlangsung pada hari keempat dan kelima dengan menghadirkan musisi nasional. Namun sebelum tampil di panggung utama, para artis akan diajak menjelajahi sejumlah destinasi wisata di Maratua untuk membuat konten promosi daerah.
Menurut Morten, pemilihan artis dilakukan berdasarkan kesediaan mereka untuk ikut mempromosikan destinasi wisata Berau.
“Konsepnya memang wisata. Musik menjadi pelengkap. Kami memilih artis yang bersedia terlibat langsung mempromosikan destinasi wisata Maratua melalui konten-konten yang mereka buat selama berada di sini,” ujarnya.
Tak hanya itu, festival juga akan diisi kegiatan konservasi berupa aksi bersih pantai, penanaman pohon, serta pelepasan tukik bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa pengembangan pariwisata di Maratua tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga dibangun dengan semangat pelestarian lingkungan.
“Melalui rangkaian acara yang memadukan musik, budaya, ekonomi kreatif, dan konservasi, Maratua Music Festival 2026 kita harapkan mampu menjadi etalase pariwisata Berau yang semakin dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





