TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Minimnya jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Berau belum berbanding lurus dengan kondisi kualitas udara yang masih buruk. Situasi ini memunculkan dugaan bahwa asap yang menyelimuti wilayah Bumi Batiwakkal turut berasal dari luar daerah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau, Zulkifli Azhari, menjelaskan bahwa jumlah titik panas yang terpantau di wilayah Berau terus berkurang. Namun, kondisi tersebut belum diikuti dengan perbaikan kualitas udara secara signifikan.
Menurutnya, penurunan jumlah hotspot menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam menelusuri penyebab memburuknya kualitas udara.
Kata dia, jika asap sepenuhnya bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Berau, berkurangnya titik panas semestinya menjadi salah satu bahan evaluasi terhadap kondisi udara saat ini.
“Kalau melihat pemantauan titik panas, jumlahnya di Berau minim dan semakin berkurang. Titik panas yang terpantau juga relatif kecil,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Meski demikian, Zulkifli menegaskan bahwa sumber asap belum dapat dipastikan hanya berdasarkan data titik panas. Diperlukan pengukuran kualitas udara yang memadai untuk mengetahui tingkat pencemaran sekaligus memastikan apakah asap dari luar wilayah turut memengaruhi kondisi di Berau.
Upaya pemantauan tersebut saat ini terkendala keterbatasan bahan pendukung alat pengukur kualitas udara. Persediaan saringan yang digunakan dalam proses pengukuran dilaporkan telah habis, sehingga pemantauan membutuhkan dukungan sarana yang memadai.
“Kita juga telah mengusulkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup agar pengukuran kualitas udara dapat dilakukan menggunakan sistem otomatis dengan pembaruan data setiap hari,” tuturnya.
Ia menambahkan, langkah ini dinilai penting agar perubahan kualitas udara dapat dipantau secara berkelanjutan dan menghasilkan informasi yang lebih akurat.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau, Rakhmadi Pasarakan, menyampaikan bahwa jumlah titik panas di Berau hanya tersisa tiga titik berdasarkan pemantauan per 10 Oktober 2026.
“Titik panas di Berau hampir tidak ada,” ucapnya.
Walaupun jumlah titik panas menurun drastis, aktivitas karhutla masih ditemukan di jalur Poros Labanan-Kelay. Sementara itu, dampak asap masih dirasakan masyarakat, sehingga kemungkinan adanya pergerakan asap dari luar daerah turut menjadi perhatian.
Rakhmadi menjelaskan, data pengamatan cuaca selama tiga hari terakhir menunjukkan suhu maksimum mencapai 31,6 derajat Celsius. Jarak pandang tercatat berkisar antara 1,2 hingga 6 kilometer, dengan kondisi atmosfer berupa asap (smoke), kabut tipis (mist), dan hujan ringan.
Kecepatan angin permukaan berada pada kisaran 2–7 kilometer per jam dengan arah dominan dari barat. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam memperkirakan kemungkinan asal pergerakan asap yang masuk ke wilayah Berau.
“Kalau melihat pergerakan angin dari barat, kemungkinan besar dari Kalteng,” bebernya.
Meski terdapat indikasi asap berasal dari luar daerah, kepastian sumbernya tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, pemantauan kondisi udara dan perkembangan karhutla masih menjadi bagian penting dalam upaya mengantisipasi dampak asap di Berau.
Rakhmadi juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran.
“Imbauan tersebut terutama ditujukan pada wilayah yang berisiko mengalami kekeringan meteorologis, sehingga potensi meluasnya kebakaran dapat ditekan,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Dedy Warseto





