TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Tanggapi isu terkait akan adanya aksi pada saat yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Berau ke 73 dan Kota Tanjung Redeb ke 216 pada (15/9/26) besok. Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) beserta 2 Kesultanan yakni Sambaliung dan Gunung Tabut melaksanakan rapat tertutup membahas hal ini.
Rapat tersebut dilaksanakan setelah Rapat Paripurna DPRD Berau tentang peringatan HUT Kabupaten Berau dan Kota Tanjung Redeb pada Senin (14/9/26) di Kantor DPRD Berau.
Sesaat setelah rapat, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas menyampaikan bajwa peringatan hari jadi seharusnya menjadi momentum persatuan masyarakat Kabupaten Berau.
“Saya mewakili Kesultanan Sembaliung dan Gunung Tabur menyampaikan bahwa di hari jadi Kabupaten Berau yang ke-73 tentu kita harapkan ialah kita tetap menjaga persatuan dan kesatuan,” ujarnya.
Pihaknya pun mengimbau kepada masyarakat agar tidak terpancing dengan orang-orang yang memprovokasi dalam rangkaian peringatan hari jadi “Bumi Batiwakkal”.
” Kami sangat mengharapkan kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab” tuturnya.
“Saya ingin Berau ini bisa kita selesaikan permasalahan tersebut dengan hati yang dingin, dengan kepala yang dingin dan dengan komunikasi yang baik seperti Itu yang saya harapkan,” sambungnya.
Sri menegaskan bahwa pihaknya sangat terbuka ketika terdapat masyarakat yang ingin melakukan komunikasi terhadap dirinya. Sehungga, kata dia tidak perlu ada aksi ketika ingin menyampaikan aspirasi.
Saya menerima mereka. Ini kemungkinan kalau saya baca ya mungkin karena ada aspirasi mereka yang tidak tersampaikan ke saya. Tapi kalau saya sebenarnya secara pribadi sih saya lebih menerima orang yang beraudiensi secara damai seperti itu,” jelasnya.
Terlebih, kata dia hari jadi merupkan momentum yang begitu sakral. Sehingga pihaknya mengajak agar momentum sakral ini dapat dijadikan jembatan silaturahim, menjaga persatuan dan kesatuan. Jikalaupun terdapat aksi, hal tersebut pun kurang tepat untuk dilakukan. Dikarenakan akan memancing hal-hal yang tidak inginkan.
“Karena saya sebagai seorang ibu, sebagai kelakuan daerah, itu mengharapkan yang baik-baik buat kita semua. Tapi kalau ibaratnya kita berupaya memancing-mancingan, itu akan memecah belak kita semua” terangnya.
Ditambahaknnya bahwa masyarakat Kabupaten Berau harus menghargai perbedaan suku agar terciptanya persatuan.
“Saya asli Berau dengan berasal dari Kesultanan Gunung Tabur. Asli saya suku Berau. Tapi saya tetap pakai baju dayak. Kenapa? Saya menjaga persatuan dan kesatuan kita,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Muhammad Izzatullah
Editor: Dedy Warseto





