TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Yudha Budhisantosa, menanggapi kritik terkait besarnya anggaran promosi pariwisata Kabupaten Berau yang belakangan menjadi sorotan publik.
Ia menegaskan bahwa program promosi yang dijalankan saat ini merupakan bagian dari strategi memperkenalkan destinasi wisata unggulan Berau di sejumlah daerah.
Menurutnya, promosi pariwisata yang dipasang di berbagai titik strategis, termasuk bandara, dilakukan untuk meningkatkan daya tarik wisatawan terhadap Kabupaten Berau.
“Di bandara kami melihat sendiri bahwa ada promosi-promosi destinasi wisata di Kabupaten Berau seperti Balikpapan dan Samarinda kan ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan penggunaan anggaran promosi telah disesuaikan dengan kontrak kerja sama yang berlaku. Meski demikian, pihaknya tetap akan melakukan evaluasi terhadap efektivitas program promosi tersebut.
“Kalau masalah anggaran kan memang kontraknya seperti itu. Tapi itu kan berjangka waktu, nanti itu akan kita cek berapa lama tayangnya apakah nanti dilanjutkan atau tidak, itu kita evaluasi,” katanya.
Yudha menegaskan promosi wisata memiliki banyak strategi yang dapat diterapkan. Karena itu, evaluasi akan dilakukan untuk menentukan metode promosi yang paling efektif dan efisien.
“Itu bukan lagi perencanaan tapi sudah ada. Namanya promosi kan strateginya macam-macam, makanya saya bilang bahwa akan melakukan evaluasi. Kalau memang nilainya terlalu besar itu kan bisa kita rubah ke strategi promosi yang lain,” jelasnya.
Ia juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan terhadap program promosi wisata yang dijalankan pemerintah daerah.
“Masukan-masukan masyarakat yang adapun belum sampai ke kita, jadi kalau perorangan kita agak sulit. Jadi silahkan masukan yang ada maka boleh diberitakan saja nanti kita akan evaluasi mana masukan yang terbaik,” kuncinya.
Sebelumnya, program pengembangan pariwisata Kabupaten Berau mendapat kritik tajam dari Ketua Umum HMI Cabang Berau, Ayatullah Khomeini. Dikutip dari ruangborneonews Ia menilai strategi promosi yang dilakukan Disbudpar Berau cenderung tidak terarah dan berpotensi memboroskan anggaran daerah.
Ayatullah menyebut pendekatan promosi tersebut menyerupai strategi “spray and pray marketing” atau “semprot uang, lalu berdoa”, karena dinilai tidak memiliki indikator keberhasilan yang jelas.
“Jika tidak ada target yang jelas, misalnya peningkatan 20 persen wisatawan dari tiap kanal promosi seperti bandara atau videotron, maka patut dipertanyakan. Ini berpotensi menjadi belanja tanpa visi,” tegasnya.
Total anggaran promosi yang disoroti mencapai Rp10.774.500.000 diambil dari data SiRUP LKPP Berau. Ia mempertanyakan efektivitas penggunaan dana tersebut, terutama untuk tayangan promosi berdurasi singkat dengan biaya besar.
“Masa uang rakyat dipakai untuk tayangan beberapa detik atau menit dengan nilai ratusan juta hingga miliaran rupiah? Ini menunjukkan adanya kesalahan dalam penafsiran program pemerintah,” tandasnya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





