TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Budidaya rumput laut di Kampung Karangan, Kecamatan Biatan, terus menunjukkan perkembangan positif dan mulai menjadi salah satu sektor unggulan dalam mendukung transformasi ekonomi di Kabupaten Berau.
Pemerintah daerah menilai sektor perikanan budidaya memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif penggerak ekonomi masyarakat di tengah upaya pengurangan ketergantungan terhadap sektor pertambangan.
mengatakan pengembangan rumput laut di Kampung Karangan saat ini telah mencapai sekitar 60 hektare dengan jumlah rumah tangga perikanan sebanyak 80 orang.
“Program budidaya rumput laut ini menjadi salah satu sektor unggulan menuju hilirisasi transformasi ekonomi dari sektor tambang ke sektor perikanan maupun pertanian dalam arti luas,” ujarnya.
Menurut Budiono, hasil budidaya rumput laut dari wilayah tersebut kini tidak hanya dipasarkan secara lokal, tetapi juga telah menembus pasar ekspor. Dalam kurun waktu tiga bulan, produksi rumput laut kering mampu mencapai dua kontainer atau sekitar 40 ton.
“Kalau dihitung dalam setahun, produksinya bisa mencapai sekitar 160 ton rumput laut kering,” katanya.
Lanjutnya, permintaan pasar luar negeri terhadap rumput laut asal Berau juga dinilai cukup tinggi. Saat ini, produk rumput laut dari Kampung Karangan telah dikirim ke sejumlah negara seperti Cina dan Hongkong, meski distribusinya masih melalui jalur transit dari Tarakan, Surabaya, dan Makassar.
Dirinya menjelaskan, budidaya rumput laut memiliki banyak keunggulan dibanding sektor budidaya lainnya. Selain tidak membutuhkan pakan, rumput laut juga memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat diolah menjadi berbagai produk turunan.
“Rumput laut ini bisa dimanfaatkan untuk kosmetik, kesehatan, kebutuhan rumah tangga, dan lainnya. Jadi peluang hilirisasinya sangat besar,” jelasnya.
Dari sisi harga, kata dia rumput laut basah di tingkat lokal dijual sekitar Rp5 ribu per kilogram, sedangkan rumput laut kering berkisar Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram. Untuk pasar ekspor, harga jual disebut lebih tinggi tergantung permintaan pembeli luar negeri.
“Sementara untuk ekspor bisa mencapai sekitar Rp15 ribu per kilogram,” tambahnya.
Meski pengelolaan budidaya rumput laut di wilayah laut menjadi kewenangan pemerintah provinsi, Dinas Perikanan Berau tetap berupaya memberikan dukungan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia para pembudidaya.
Salah satunya dengan rencana pemberangkatan lima orang pembudidaya rumput laut ke Balai Besar Budidaya Rumput Laut di Takalar guna mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas.
“Fokus kami di daerah lebih kepada pelatihan dan pemberdayaan masyarakat agar kualitas SDM pembudidaya semakin meningkat,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





