TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Keluhan warga Tabalar Muara, Kecamatan Tabalar terkait kondisi jembatan yang menjadi akaes sehari-hari warga di kampung tersebut.
Merespon hal itu Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Berau memastikan akan segera melakukan penanganan sementara terhadap kerusakan Jembatan Tabalar Muara yang sempat dilaporkan warga.
Langkah ini diambil sebagai respons awal sambil menunggu perencanaan penanganan jangka panjang yang masih dalam proses penganggaran.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan DPUPR Berau, Junaidi. Dirinya mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima informasi kerusakan tersebut sejak beberapa waktu lalu.
Setelah itu, tim konsultan perencanaan langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan survei kondisi jembatan.
“Kami telah mendapatkan informasi terkait jembatan Tabalar Muara tersebut beberapa waktu lalu. Kemudian konsultan perencanaan kami telah turun melakukan survei,” ujarnya.
Berdasarkan hasil kajian awal, DPUPR Berau akan melakukan perbaikan sementara menggunakan material kayu. Pekerjaan ini ditargetkan mulai dilaksanakan pada Mei 2026 sebagai solusi cepat agar akses masyarakat tidak terganggu lebih lama.
“Jadi insya Allah perbaikan sementara yang kita lakukan adalah perbaikan dengan menggunakan kayu yang akan kami laksanakan sekitar bulan Mei 2026,” tuturnya.
Junaidi menjelaskan, sebelumnya pihak kampung sempat mengusulkan pembangunan jembatan Bailey. Namun, usulan tersebut masih menghadapi sejumlah kendala teknis dan anggaran.
“Memang dari kampung ada bersurat untuk jembatan Bailey, tapi karena bentangannya cukup panjang sekitar 31 meter dan medannya cukup berat, jadi kita akan usulkan nanti. Sekarang kita upayakan penanganan sementara dulu, serta kita pun melihat kemampuan anggaran yang ada,” jelasnya.
Untuk tahap awal, perbaikan akan difokuskan pada penyambungan bagian jembatan yang terputus serta pemasangan pengaman tambahan.
“Maka dari itu, sekarang langkah sementara akan kita lakukan dan sedang berproses. Karena kondisi jembatannya kan terputus ujungnya, nanti akan kita sambungkan kayu dan akan kita pasangkan juga handrail-nya untuk penyangga,” katanya.
Sementara itu, penanganan permanen masih menunggu ketersediaan anggaran. Jembatan tersebut sebelumnya telah diusulkan dalam Rencana Kerja (Renja) 2026, namun belum terakomodasi.
“Bahkan jalannya pun telah kita usulkan pada Renja 2026 tapi anggarannya belum terakomodir. Kemudian telah kami masukkan lagi pada Renja tahun 2027,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





