TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Penanaman padi serentak digelar di lokasi Corporate Social Responsibility (CSR) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sebagai bagian dari upaya percepatan program cetak sawah dan penguatan ketahanan pangan daerah.
Komandan Kodim 0902/Berau, Kolonel Inf Wirahadi Harahap, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara TNI, Kementerian Pertanian, dan Dinas Pertanian Kabupaten Berau.
“Untuk Berau, target cetak sawah mencapai 425 hektare. Program ini sudah dimulai sejak November dan ditargetkan rampung pada 31 Maret. Alhamdulillah, hari ini kita sudah bisa melaksanakan penanaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanaman tidak hanya dilakukan di satu titik. Di wilayah Buyung-Buyung, luas lahan yang telah ditanami mencapai sekitar 70 hektare, sementara di Merancang sekitar 23 hektare, dan di Labanan sekitar 16 hektare.
Menurutnya, proses percepatan dilakukan dengan strategi khusus, termasuk pemetaan medan berdasarkan tingkat kesulitan. Untuk lahan berat, pihaknya mengoptimalkan penggunaan alat berat agar pekerjaan tetap sesuai target.
“Kurang lebih tiga bulan kita kejar untuk menyelesaikan kegiatan cetak sawah ini. Karena sistemnya menggunakan air patah, maka harus selesai tepat waktu,” ucapnya.
Dandim juga menilai wilayah Buyung-Buyung menjadi salah satu prioritas pengembangan karena masyarakatnya telah terbiasa bertani, sehingga potensi pengelolaan lahan dinilai lebih optimal.
“Antusiasme masyarakat di Berau cukup tinggi. Ini sangat membantu percepatan program, meskipun di beberapa wilayah masih ada kendala minat masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyebut bahwa dari total 425 hektare lahan cetak sawah, sebagian besar telah tersebar di beberapa kecamatan seperti Buyung-Buyung, Labanan, Melati Jaya, dan Merancang Ulu.
“Yang paling luas memang di Buyung-Buyung. Insya Allah di tahun 2026 akan ada tambahan sekitar 100 hektare lagi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, lahan yang telah dicetak akan diserahkan kepada para petani untuk dikelola secara berkelanjutan. Namun, tantangan utama saat ini adalah minimnya minat generasi muda di sektor pertanian.
“Kita kekurangan petani muda. Banyak yang lebih memilih sektor tambang atau perkebunan seperti sawit. Padahal, potensi pertanian kita sangat besar, tidak hanya padi tapi juga jagung,” jelasnya.
Menurut Gamalis, Berau memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertanian di Kalimantan, mengingat capaian target yang telah terpenuhi serta kondisi lahan yang dinilai lebih baik dibandingkan daerah lain.
Pemerintah daerah juga terus menggencarkan penyuluhan kepada masyarakat. Namun, keterbatasan sumber daya manusia dan alat menjadi kendala, sehingga solusi yang ditempuh adalah optimalisasi penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Penyuluhan sudah kita lakukan secara intens, tapi memang tantangan kita ada di SDM dan alat. Maka kita dorong pemanfaatan alsintan untuk mendukung produktivitas,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





