TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai unsur. Dukungan dunia usaha menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat kemampuan tim gabungan, baik dalam pemantauan, pencegahan maupun penanganan kebakaran di lapangan.
Salah satu pihak yang aktif terlibat yakni PT Berau Coal melalui Emergency Response Group (ERG). Sejak meningkatnya kejadian karhutla pada pertengahan Agustus 2026, tim tanggap darurat perusahaan tersebut terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait untuk merespons potensi maupun kejadian kebakaran.
Keterlibatan ERG tidak sebatas pengerahan personel dan peralatan. Dukungan juga diberikan untuk menunjang kebutuhan operasional, termasuk logistik serta pembiayaan yang diperlukan selama proses penanganan berlangsung.
Selain respons ketika kebakaran terjadi, langkah pencegahan turut menjadi perhatian. PT Berau Coal memasang sejumlah spanduk imbauan di lokasi tertentu untuk mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya di tengah kondisi yang rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Berau, Masyhadi Mundi, menilai keterlibatan pihak swasta turut memberikan kontribusi terhadap kelancaran penanganan karhutla. Menurutnya, dukungan tersebut dapat dirasakan langsung oleh petugas yang bekerja di posko induk maupun posko yang berada di tingkat kecamatan.
“Peran perusahaan swasta sangat membantu karena dukungan diberikan langsung untuk menunjang kegiatan di posko utama maupun posko kecamatan. Dengan adanya bantuan tersebut, operasional tim dalam menghadapi karhutla dapat berjalan lebih optimal,” kata Masyhadi.
Sementara itu, Emergency Response & Safety Services Department Head PT Berau Coal, Andi Henry Achmad, menjelaskan bahwa perusahaan juga memperkuat sistem deteksi dini. Pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan informasi dari sejumlah platform untuk mengetahui indikasi awal potensi kebakaran.
“Informasi awal kami peroleh dari Sipongi+ milik Kementerian Kehutanan dan Lembuswana dari Polda Kaltim. Setiap ada indikasi hotspot, informasi tersebut tidak langsung dianggap sebagai kebakaran, tetapi kami tindak lanjuti dengan pengecekan di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” jelas Andi.
Menurutnya, verifikasi lapangan diperlukan karena data hotspot dari pemantauan satelit pada dasarnya merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan. Artinya, keberadaan hotspot belum otomatis berarti terdapat api yang sedang menyala.
Dalam penanganannya, ERG PT Berau Coal bergerak bersama BPBD, Damkar, KPHP, TNI-Polri, Manggala Agni, PMI, Masyarakat Peduli Api (MPA), PT Inhutani, PT Hutan Sanggam Berau, relawan serta sejumlah perusahaan dan unsur masyarakat lainnya.
Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat deteksi, meningkatkan kesiapsiagaan dan memperpendek waktu respons ketika muncul potensi karhutla. Kolaborasi berkelanjutan juga menjadi langkah penting untuk menekan risiko meluasnya kebakaran di wilayah Berau. (ADV)
Penulis: Muhammad Izzatullah
Editor: Dedy Warseto





