TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Berau masih menghadapi sejumlah kendala dalam menjalankan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.
Selain kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional armada, keterbatasan fasilitas pendukung seperti selang pemadam dan alat pelindung diri (APD) turut menjadi perhatian.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi kelancaran penanganan karhutla apabila kejadian terus berlangsung.
Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, mengatakan persediaan BBM yang dimiliki saat ini diperkirakan hanya mampu menunjang operasional sekitar dua pekan ke depan jika tidak ada tambahan bantuan.
“BBM kita perkirakan mungkin hanya sampai dua minggu ke depan jika tidak ada tambahan bantuan. Tapi kelihatannya masih ada bantuan-bantuan, baik BBM maupun logistik,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan BBM. Kondisi sejumlah peralatan pemadaman juga menjadi kendala di lapangan, terutama selang yang sudah mengalami kebocoran.
“Peralatan, selang-selang kita banyak yang sudah bocor. Kemudian APD kita juga kurang. Yang kasihan teman-teman di lapangan,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan operasional, Disdamkarmat juga mengandalkan dukungan dari pihak swasta. Sebelumnya, Bupati Berau telah mengimbau perusahaan yang beroperasi di wilayah Berau untuk turut membantu penanganan karhutla.
Rakhmadi menyebut sebagian perusahaan maupun pihak lainnya telah memberikan bantuan, terutama dalam bentuk BBM dan logistik. Namun, menurutnya, masih terdapat perusahaan yang belum memberikan respons terhadap kebutuhan penanganan karhutla.
“Sebagian besar sudah ada bantuan dari perusahaan maupun pemerintah, tapi sebagian lagi masih slow response,” ungkapnya.
Di tengah keterbatasan personel, Disdamkarmat juga mendapat dukungan dari masyarakat melalui relawan kebakaran. Selain Masyarakat Peduli Api (MPA), terdapat relawan kebakaran yang membantu tugas pemadaman bersama petugas.
Rakhmadi mengatakan jumlah relawan yang aktif memang belum banyak. Namun, keberadaan mereka cukup membantu petugas, khususnya ketika intensitas penanganan karhutla meningkat.
“Kalau tim relawan ada MPA, Masyarakat Peduli Api. Kalau di Damkar ada relawan kebakaran, namanya Red Car, tapi memang belum banyak,” jelasnya.
Ia menyebut saat ini terdapat sekitar tiga relawan kebakaran yang aktif membantu operasional di lapangan.
“Yang jalan, misalnya belakangan itu ada tiga relawan kebakaran. Mereka luar biasa, setiap hari juga membantu,” tuturnya.
Rakhmadi juga meminta perusahaan yang memiliki konsesi maupun izin penggunaan lahan di wilayah Berau untuk lebih aktif melakukan pencegahan dan penanganan ketika muncul titik api di area masing-masing.
Ia menyebut, banyak titik kebakaran berada di wilayah yang berkaitan dengan konsesi atau izin penggunaan lahan. Karena itu, perusahaan dinilai memiliki peran penting dalam melakukan deteksi dini dan penanganan awal.
“Areanya banyak dimiliki oleh konsesi dan izin penggunaan lahan. Artinya titik-titik itu justru banyak berada di mereka. Mereka harusnya lebih care ketika mengetahui ada titik-titik api,” tegasnya.
Ia berharap perusahaan tidak hanya menunggu ketika kebakaran sudah meluas, tetapi ikut bergerak sejak api atau indikasi kebakaran pertama kali terdeteksi.
“Dari kondisi karhutla yang masih menjadi ancaman, kolaborasi antara pemerintah daerah, perusahaan, masyarakat, relawan, dan seluruh pihak kita nilai menjadi kunci agar penanganan di lapangan dapat berjalan lebih cepat dan efektif,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




