TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Berau menunjukkan penurunan signifikan di tengah kondisi cuaca ekstrem dan musim kemarau yang masih berlangsung.
Berdasarkan pembaruan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Timur per 24 Agustus 2026, jumlah titik panas di Berau turun dari sebelumnya mencapai 281 titik menjadi 51 titik.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, penurunan tersebut menjadi indikasi positif di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, kondisi itu tidak terlepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat serta kerja sama berbagai pihak dalam melakukan pencegahan.
“Karena saat ini cuaca kita sangat ekstrem sekali dan berdasarkan data pembaruan BMKG Kalimantan Timur, jumlah titik panas di Berau mengalami penurunan signifikan,” ungkap Sri Juniarsih.
Meski turun, kata dia, hotspot masih tersebar di sejumlah kecamatan. Kecamatan Segah menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 18 titik.
Disusul Pulau Derawan sebanyak 10 titik, Talisayan 8 titik, Sambaliung 5 titik, dan Bidukbiduk 4 titik. Kemudian Batu Putih dan Kelay masing-masing terdeteksi 2 titik, sementara Gunung Tabur dan Tabalar masing-masing 1 titik.
Ia menyebut, dengan total 51 titik panas, Berau masih berada di posisi kedua daerah dengan hotspot terbanyak di Kalimantan Timur. Posisi pertama ditempati Kabupaten Kutai Kartanegara dengan 74 titik panas.
Sri Juniarsih menegaskan, penurunan tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak menurunkan kewaspadaan. Pasalnya, musim kemarau masih berlangsung dan kondisi cuaca yang kering tetap berpotensi memicu kebakaran.
Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api di wilayahnya.
“Segera laporkan apabila menemukan titik api dan bersama-sama kita jaga lingkungan serta wilayah kita agar aman dari ancaman karhutla,” ujarnya.
Ia mengaku, Pemkab Berau bersama berbagai pihak juga terus melakukan langkah antisipasi menghadapi kondisi kemarau. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Dalam pelaksanaannya, pesawat dikerahkan untuk melakukan penyemaian bahan berupa garam ke dalam awan yang memiliki potensi hujan.
Namun, upaya penanganan karhutla menurut Sri Juniarsih tidak bisa hanya mengandalkan petugas di lapangan. Keterlibatan seluruh unsur dinilai menjadi kunci, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, pemadam kebakaran, TNI, Polri, perusahaan hingga masyarakat.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pembakaran yang dilakukan secara sembarangan.
“Jangan sampai karena kelalaian kita, masyarakat lalai ataupun tidak sengaja sehingga terjadilah hal-hal yang tidak kita inginkan,” tegasnya.
Sri menyebut berdasarkan informasi yang diterimanya, kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih berpotensi berlangsung hingga Januari 2027. Karena itu, kewaspadaan terhadap karhutla harus tetap dipertahankan dalam jangka waktu panjang.
Ia meminta seluruh unsur yang selama ini terlibat dalam pemantauan dan penanganan karhutla untuk terus mengambil peran di wilayah masing-masing.
BPBD, Damkar, TNI, Polri, pihak swasta hingga masyarakat di 100 kampung dan 10 kelurahan di Kabupaten Berau diharapkan terus melakukan pemantauan dan pencegahan.
“Kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan kita,” tegasnya.
Sri berharap sinergi yang telah terbangun dapat terus dipertahankan. Dengan keterlibatan seluruh pihak, potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau diharapkan dapat ditekan.
“Saya yakin dengan kepedulian dan kerja sama seluruh pihak, kita dapat menghadapi tantangan musim kemarau ini dan insya Allah Berau tetap aman dan kondusif,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




