TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemkab Berau mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Pagelaran Budaya Tahun 2026 yang akan digelar dalam rangka menyambut Pancasila Day. Persiapan tersebut dibahas dalam rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Kakaban Lantai 2 Kantor Bupati Berau, Jumat (19/6/26).
Mengusung tema “Bersatu dalam Keberagaman, Melestarikan Budaya, Mengokohkan Pancasila di Bumi Batiwakkal”, kegiatan ini diharapkan menjadi wadah memperkuat persatuan masyarakat sekaligus melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Berau.
Dalam kesempatan tersebut, Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Berau, M. Hendratno, menegaskan bahwa pagelaran budaya bukan sekadar acara seremonial, melainkan sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat.
Menurutnya, seluruh pihak yang akan terlibat dalam kegiatan tersebut perlu memahami empat pilar kebangsaan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Empat pilar kebangsaan ini harus menjadi landasan dalam setiap aktivitas masyarakat, termasuk dalam pelaksanaan pagelaran budaya yang akan kita selenggarakan nanti,” ujarnya.
Hendratno menjelaskan, budaya sejatinya merupakan cerminan budi pekerti luhur yang menjadi pedoman dalam bertindak dan mengambil keputusan.
Lanjutnya, nilai-nilai budaya yang baik, kata dia, dapat menjadi benteng bagi masyarakat dari berbagai pengaruh negatif yang berpotensi merusak kehidupan sosial.
“Budaya adalah nilai luhur yang membimbing kita agar tidak terjebak pada hal-hal negatif seperti penyalahgunaan narkoba, berbagai persoalan sosial, maupun tindakan yang dapat merusak semangat kebhinekaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, budaya, dan bahasa daerah yang sangat kaya. Karena itu, menjaga semangat persatuan dan nasionalisme menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
“Walaupun berbeda latar belakang, kita dipersatukan dalam satu identitas sebagai bangsa Indonesia. Semangat patriotisme dan nasionalisme harus terus kita jaga agar keberagaman menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan,” tegasnya.
Dalam rapat tersebut, Hendratno meminta agar konsep kegiatan benar-benar mampu merepresentasikan semangat Gelaran Budaya Pancasila 2026. Ia menilai setiap tindakan dan nilai yang ditanamkan saat ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang.
“Yang kita lakukan hari ini akan menjadi budaya yang diwariskan kepada generasi 100 tahun ke depan. Karena itu, kegiatan ini harus memiliki makna dan dampak yang kuat dalam memperkuat karakter kebangsaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pembangunan yang inklusif dan menghargai keberagaman. Menurutnya, pemerintah terus mendorong pelayanan publik yang tidak diskriminatif serta membuka ruang yang sama bagi seluruh kelompok masyarakat.
“Keberagaman adalah modal dasar pembangunan. Baik dalam sektor pariwisata, ekonomi kreatif, maupun pelestarian budaya, keberagaman harus menjadi kekuatan yang mampu mendorong kemajuan daerah,” katanya.
Hendratno juga mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap istilah “pendatang”. Menurutnya, setiap orang yang tinggal dan berkontribusi positif di suatu daerah merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam membangun daerah.
“Di mana pun kita berada, selama kita menebar kebaikan dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, di situlah rumah kita,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan secara nyata dalam berbagai program pembangunan.
Ia juga berharap tokoh masyarakat, tokoh adat, dan unsur Kesultanan Berau dapat memberikan masukan serta arahan guna menyukseskan penyelenggaraan kegiatan.
“Melalui Pagelaran Budaya Pancasila 2026, kita berharap semangat persatuan dalam keberagaman semakin mengakar di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





