TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Komitmen Pemkab Berau dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan terus diperkuat. Salah satu fokus yang kini menjadi perhatian adalah pelayanan hemodialisa (cuci darah) di RSUD dr Abdul Rivai yang masih menghadapi keterbatasan kapasitas layanan bagi pasien gagal ginjal.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan saat Wakil Bupati Berau, Gamalis, meninjau langsung fasilitas pelayanan cuci darah di RSUD dr Abdul Rivai. Dalam kunjungan tersebut, Wabup diterima Direktur RSUD dr Abdul Rivai, dr Jusram, didampingi Humas RSUD Dani Apriat Maja.
Di hadapan Wakil Bupati, dr Jusram menjelaskan bahwa rumah sakit saat ini memiliki delapan mesin hemodialisa aktif yang melayani sekitar 48 pasien setiap pekan. Padahal, secara kesiapan peralatan, rumah sakit sebenarnya masih memiliki peluang untuk menambah kapasitas layanan.
“Rumah sakit saat ini memiliki delapan mesin cuci darah yang aktif. Sebenarnya kami masih memiliki lima mesin yang siap digunakan dan pihak vendor yang bekerja sama juga siap mendukung penambahan layanan,” ungkapnya.
Namun ia menjelaskan, pihak rumah sakit masih terkendala regulasi BPJS yang mensyaratkan kelayakan gedung dan luasan ruangan tertentu untuk dapat mengakomodasi penambahan mesin.
Menurutnya, keterbatasan ruang pelayanan membuat BPJS Kesehatan saat ini hanya dapat mengakomodasi klaim layanan untuk delapan mesin yang beroperasi. Kondisi tersebut berdampak langsung pada terbatasnya kuota pasien yang bisa dilayani di Berau.
Diakui dr Jusram, akibat keterbatasan tersebut, sekitar 58 warga Berau yang membutuhkan terapi cuci darah rutin hingga kini masih menjalani pengobatan di luar daerah, seperti Tarakan, Balikpapan, dan Samarinda.
“Ini tentu menjadi beban yang cukup berat bagi pasien dan keluarganya. Mereka harus tinggal di luar daerah, mengontrak atau kos dalam jangka waktu yang tidak singkat, serta jauh dari keluarga. Karena itu, persoalan ini menjadi perhatian serius bagi manajemen rumah sakit,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, pihak RSUD juga menyampaikan harapan kepada Pemkab Berau agar percepatan penyelesaian sarana pendukung di Gedung Walet dapat segera direalisasikan. Salah satunya adalah pemenuhan fasilitas lift yang menjadi bagian penting dalam operasional gedung baru tersebut.
Ia menyebut, dengan berfungsinya Gedung Walet secara optimal, ruang ICU lama dapat dipindahkan ke fasilitas baru. Selanjutnya, ruang yang sebelumnya digunakan untuk ICU akan dimanfaatkan untuk pengembangan layanan hemodialisa dengan kapasitas yang lebih besar.
“Melalui kunjungan Pak Wakil Bupati, kami menyampaikan kebutuhan percepatan penyelesaian fasilitas Gedung Walet. Jika ICU baru sudah bisa difungsikan penuh, maka ruang yang ada dapat direlokasi untuk pengembangan layanan cuci darah sehingga kami dapat mengajukan penambahan mesin kepada BPJS,” terang dr Jusram.
Tidak hanya menunggu pengembangan gedung baru, RSUD dr Abdul Rivai juga telah menyiapkan langkah percepatan sebagai solusi jangka pendek. Manajemen rumah sakit berencana memanfaatkan Gedung IGD lama yang sebelumnya diproyeksikan sebagai Dental Centre untuk dijadikan ruang hemodialisa tambahan.
Langkah tersebut dinilai lebih cepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Sementara itu, layanan Dental Centre nantinya akan dipindahkan sementara ke ruang ICU lama sambil menunggu seluruh fasilitas di Gedung Walet dapat beroperasi secara penuh.
Dr Jusram menambahkan, upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen RSUD dr Abdul Rivai untuk terus meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi pasien gagal ginjal yang membutuhkan terapi cuci darah secara rutin.
“Harapan kami, pasien-pasien Berau yang saat ini masih menjalani cuci darah di luar daerah dapat kembali berobat di Berau, berkumpul bersama keluarga, dan memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





