TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Sisa lebih penggunaan anggaran (SiLPA) penanggulangan bencana tahun 2025 di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau tercatat mencapai sekitar Rp2,5 miliar.
Besarnya angka tersebut bukan disebabkan oleh kelalaian penggunaan anggaran, melainkan karena kondisi bencana yang relatif terkendali hingga akhir tahun.
Kepala BPBD Berau, Masyhadi Muhdi, menegaskan bahwa anggaran tetap dimanfaatkan, terutama saat bencana banjir melanda pada periode Maret hingga Mei 2025. Pada saat itu, dana difokuskan untuk memenuhi kebutuhan logistik masyarakat terdampak.
“Bukan berarti tidak terpakai sama sekali, tetap digunakan. Tapi memang SILPA-nya cukup besar,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, setelah fase banjir berlalu, pihaknya tetap menyiapkan anggaran sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana berikutnya. Hal ini mempertimbangkan pola cuaca yang umumnya menunjukkan peningkatan curah hujan pada Oktober hingga awal tahun.
Namun kenyataannya, hingga penghujung 2025, wilayah Berau tidak mengalami bencana besar lanjutan. Kondisi yang relatif aman ini membuat sebagian anggaran yang telah dialokasikan tidak terserap.
“Itu hanya terpakai sedikit saja. Karena memang tidak ada kejadian bencana lagi, dan itu justru patut disyukuri,” katanya.
Masyhadi juga menekankan bahwa karakter anggaran kebencanaan berbeda dengan sektor lain. Dana harus tetap disiapkan sebagai bentuk antisipasi, meskipun pada akhirnya tidak seluruhnya digunakan.
“Kalau dipaksakan digunakan padahal tidak ada bencana, itu justru keliru. Jadi SILPA ini bukan karena anggaran mangkrak, tapi karena memang tidak ada kebutuhan mendesak,” tegasnya.
Penjelasan tersebut sekaligus merespons pertanyaan dari sejumlah anggota DPRD Berau terkait tingginya SiLPA.
“Kami memiliki orientasi utama dalam pengelolaan anggaran kebencanaan adalah kesiapsiagaan, bukan sekadar tingkat penyerapan anggaran,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





