TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Penerimaan pajak dari sektor sarang burung walet di Kabupaten Berau dinilai masih jauh dari optimal. Kondisi ini mendapat sorotan dari Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, yang menilai banyak usaha walet belum terdata secara menyeluruh oleh pemerintah daerah.
Menurut Sumadi, lemahnya pendataan menjadi tantangan serius bagi Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) dalam menggenjot pendapatan asli daerah (PAD), khususnya dari sektor walet yang memiliki potensi besar.
Ia menegaskan, upaya peningkatan penerimaan daerah seharusnya tidak selalu dilakukan dengan menaikkan tarif pajak, melainkan dengan memaksimalkan potensi yang sudah ada melalui sistem pendataan dan penagihan yang lebih efektif.
“Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, kita tidak perlu menaikkan pajak. Cukup maksimalkan penagihan dan pendataan subjek pajak yang ada, termasuk PBB, pajak makanan dan minuman, serta sektor lainnya,” ujarnya.
Sumadi juga menyoroti masih banyaknya wajib pajak yang belum patuh menjalankan kewajibannya. Hal ini dinilai menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem pengawasan dan penegakan aturan.
Ia menekankan pentingnya langkah konkret dalam memperluas basis data wajib pajak, agar seluruh potensi pendapatan daerah dapat tergarap secara maksimal tanpa membebani masyarakat.
Di sisi lain, Sumadi mengungkapkan bahwa sistem penjualan sarang walet yang umumnya dilakukan melalui pengepul menjadi salah satu kendala utama dalam pengawasan transaksi.
Kondisi tersebut menyebabkan perputaran ekonomi di sektor walet sulit terpantau, sehingga potensi pajak yang seharusnya masuk ke kas daerah tidak tercatat secara optimal.
Sebagai solusi, ia mendorong pemerintah daerah segera menyusun regulasi yang mengatur mekanisme penjualan sarang walet, termasuk kemungkinan menghadirkan sistem transaksi terpusat agar lebih mudah diawasi dan dipungut pajaknya.
“Kalau ada regulasi dan tempat transaksi yang jelas, maka perputaran ekonomi dari sarang walet bisa terdata dengan baik dan penerimaan daerah bisa meningkat,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Dedy Warseto




