TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Ketersediaan obat di RSUD Abdul Rivai sempat mengalami kendala dalam beberapa waktu terakhir. Namun, pihak manajemen rumah sakit memastikan bahwa kondisi tersebut kini telah berangsur normal setelah dilakukan berbagai langkah penanganan, termasuk pelunasan sebagian utang kepada pihak penyedia.
Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha (TU) RSUD Abdul Rivai, Sarengat, menjelaskan bahwa rumah sakit sebenarnya memiliki mekanisme rutin untuk memastikan ketersediaan obat tetap terjaga melalui kegiatan pengecekan berkala.
“Kami memang ada kegiatan namanya opname obat, jadi di situ kita melakukan pengecekan secara berkala untuk menambahkan stok obat,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Meski demikian, ia mengakui sempat terjadi kekosongan pada beberapa jenis obat tertentu. Kondisi ini bukan terjadi secara menyeluruh, melainkan hanya pada item tertentu dan dipengaruhi oleh kendala kerja sama dengan pihak penyedia.
“Namun untuk obat-obatan yang habis itu hanya obat-obat tertentu saja dan terjadi di RSUD Abdul Rivai saja. Dikarenakan kemarin terdapat kendala dengan pihak penyedia atau vendor,” terangnya.
Sarengat menyebutkan, salah satu langkah yang telah dilakukan adalah menyelesaikan sebagian kewajiban pembayaran kepada vendor. Dari total utang obat yang mencapai sekitar Rp10 miliar, pihak rumah sakit telah membayar sebesar Rp5,9 miliar.
“Saat ini kita telah bayar utang obat itu sebesar Rp5,9 miliar dan stok obat saat ini sudah kembali normal dan ready di rumah sakit,” ungkapnya.
Pihaknya pun menargetkan sisa utang tersebut dapat dilunasi sebelum akhir tahun 2026. Hal ini dinilai realistis mengingat pembayaran dilakukan secara rutin setiap bulan.
“Utang yang jumlahnya Rp10 miliar ini kita targetkan lunas sebelum tahun 2026 berakhir, karena kita rutin membayar dengan jumlah Rp1 miliar lebih per bulannya,” bebernya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, manajemen RSUD Abdul Rivai akan melakukan penyesuaian kebijakan anggaran. Fokus utama akan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan obat dibandingkan pembangunan fisik.
“Kami akan memprioritaskan anggaran untuk pembelian obat dan tidak menganggarkan dulu untuk pembangunan baik gedung atau sebagainya,” tegasnya.
Ia juga optimistis permasalahan kekosongan obat tidak akan kembali terjadi pada tahun mendatang. Menurutnya, kendala di akhir tahun yang biasanya berkaitan dengan proses pembayaran bukan menjadi hambatan besar.
“Kami optimistis tahun depan hal ini tidak akan terjadi lagi. Walaupun memang biasanya di akhir tahun stok obat datang dan tidak bisa dibayar langsung, sehingga pembayaran dilakukan pada Januari sekitar Rp500 juta sampai Rp1 miliar dan itu bukan halangan,” jelasnya.
Selain itu, pihak rumah sakit juga akan melakukan evaluasi terhadap jenis obat yang paling banyak digunakan sebagai langkah antisipasi.
“Kita juga akan melihat obat mana yang paling banyak digunakan, itu yang distok terlebih dahulu untuk mengatasi kelangkaan pada Januari dan Februari agar tidak terjadi kekosongan,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





