Suara langkah kaki dan gerakan pukulan menjadi bagian dari keseharian Muhammad Fadli Ramadhan. Di usia yang baru 10 tahun, siswa kelas V SD Negeri Gunung Tabur, itu sudah mengenal latihan boxing sejak masih berusia empat tahun.
Teluk Bayur, Portalberau
Di rumahnya di Jalan Marsma Iswahyudi, Kelurahan Rinding, Kecamatan Teluk Bayur, latihan bukan sekadar aktivitas sesekali. Hampir setiap hari, Fadli menjalani latihan yang dibimbing langsung oleh ayahnya, Aji dan disaksikan oleh sang ibu, Wiwi.
Selama enam tahun, Aji menjadi sosok yang mendampingi perkembangan Fadli. Mulai dari mengenalkan gerakan dasar hingga menjaga kedisiplinan latihan, semuanya dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan sang anak.
“Bakat anak saya terlihat sejak kecil,” kata Aji.
Latihan Fadli pun tidak harus dilakukan di tempat khusus. Rumah dan lingkungan sekitar menjadi ruang baginya untuk menempa kemampuan. Boxing menjadi olahraga utama, tetapi Fadli juga rutin berlari untuk menjaga kebugaran dan daya tahan fisiknya.
Bagi Aji dan Wiwi, menjaga kondisi tubuh Fadli menjadi bagian penting dari proses tersebut. Karena itu, keduanya berusaha menerapkan pola hidup yang teratur.
“Waktu tidur dijaga agar cukup. Pola makan pun kami perhatikan, membiasakan Fadli mengonsumsi buah dan sayuran. Asupan vitamin juga diberikan untuk menunjang kebutuhan hariannya,” ungkap sang ibu
Namun, bagi kedua orang tuanya, perjalanan Fadli bukan semata tentang mengejar prestasi di atas ring.
Ada kedisiplinan yang ingin ditanamkan sejak dini. Ada pula tanggung jawab untuk tetap menyeimbangkan latihan dengan pendidikan sebagai seorang pelajar.

Di usia 10 tahun, perjalanan Fadli masih sangat panjang. Latihan yang dimulainya sejak usia empat tahun baru menjadi awal dari proses untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya.
Dari rumah sederhana di Rinding, bersama sang ayah yang sekaligus menjadi pelatihnya, Fadli perlahan menempa keberanian, ketekunan, dan disiplin.
Mungkin belum banyak yang mengenal namanya hari ini. Tetapi setiap pagi dan sore yang diisi dengan latihan menjadi bagian dari sebuah perjalanan—seorang anak Berau yang sedang membangun mimpinya, satu pukulan dan satu langkah pada satu waktu.
Dari Latihan di Rumah, Muncul Keinginan Bertanding. Selama enam tahun, Fadli terbiasa berlatih tanpa suasana pertandingan.
Tidak ada sorakan penonton. Tidak ada lawan di seberang ring. Tidak ada tekanan seperti yang akan ditemuinya dalam sebuah kompetisi. Sampai kesempatan itu datang. Bulan Oktober mendatang ada pertandingan boxing di Kota Samarinda. Dan kali ini, Fadli sendiri yang ingin ikut.
Keinginannya menjadi titik penting dalam perjalanan tersebut. Ia merasa sudah siap untuk mencoba pengalaman pertamanya di atas ring.
“Jelas saya mendukung penuh keinginan putra saya untuk mencoba suasana pertandingan sesungguhnya. Apapun hasilnya nanti, setidaknya itu akan menambah motivasinya untuk terus berlatih,” tambahnya.
Bagi Fadli, perjalanan menuju Samarinda bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain. Ada sesuatu yang lebih besar yang ikut dibawa: latihan selama enam tahun, keberanian seorang anak untuk mencoba, dan kepercayaan sang ayah terhadap bakat yang sejak kecil dilihatnya.
Untuk pertama kalinya, Fadli akan membawa latihan yang selama ini dilakukan di rumah ke sebuah panggung pertandingan. Fadli mengikuti Arkansparingnight (ASN) kejuaraan boxing pada kelas atlet boxing junior dengan perebutan sabuk dan medali, termasuk Sabuk Juara ASN.
Di sinilah perjalanan enam tahun itu menemukan ujian pertamanya dengan menghadapi lawan dari Kota Balikpapan yang sudah bermodalkan 1 kali kemenangan.
Jika selama ini Aji berdiri di sampingnya sebagai ayah sekaligus pelatih di rumah, kini Fadli harus membawa sendiri apa yang telah dipelajarinya. (*/)




