TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menyatakan bahwa saat ini tengah memerlukan pemadaman dengan metode Water Bombing.
Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Berau, Gamalis. Dirinya menyampaikan bahwa saat ini kondisi saat ini berdasarkan informasi bahwa api hari ini telah masuk ke jauh ke dalam hutan.
“Sampai 500 meter malah ke dalam. Kalau itu terjadi, tentu kita tidak bisa melakukan pemadaman seperti biasa karena semakin jauh dari tepi jalan,” ujarnya, Jum’at (18/9/26).
Ia pun menuturkan bahwa kondisi karhutla yang berada di tepi jalan saat ini telah meredup. Namun, api masuk hingga ke tengah, sementara tim pemadam yang dimiliki itu hanya di pinggir jalan.
“Mobil-mobil pemadam kita hanga mampu menjangkau maksimal 100 meter dari tepi jalan, tergantung akses, tergantung akses jalan,” tuturnya.
Dijelaskannya, dengan kondisi demikian baik dari sisi SDM maupun operasional berupa unit dan semacamnya itu tidak mampu untuk melakukan pemadaman secara merata.
“Selang yang ada tidak sampai, kemudian beberapa unit kondisi kita hari ini, tidak lagi dapat maksimal bergerak, karena sudah hampir 2 bulan ini kan mereka kerja non-stop. Siang dan malam, sehingga perlu dilakukan perawatan,” jelasnya.
Pihaknya berharap dengan adanya api yang masuk hingga ketengah hutan dan jauh dari tepi jalan ini water bombing yang saat ini sedang berada di IKN dan Samarinda dapat geser ke Bandar Udara Kalimarau. Untuk melakukan pemadaman di sini.
“Kita perlu water bombing, karena sementara ini kita lakukan dengan cara manual, yakni Portable. Itu aja yang digunakan kawan-kawan di kampung,” terangnya.
Kita membutuhkan water bombing itu karena api sangat jauh di dalam sudah. (2:24) Kita tidak sampai lagi. Operasional maupun tenaga kita sudah terlalu jauh ke dalam,” sambungnya.
Terlebih, kondisi tenaga baik dari MPA, redcar, Damkar, BPBD, TNI, dan Polri mulai terhalang. Selain dengan kondisi mereka sudah mulai lelah. Kondisi alat sudah mulai perlu di rawat dan juga medan semakin berat.
“Waterbombing hari ini sebuah solusi, saya kira, apalagi kondisi kabut telah mengurangi jarak pandang,” kuncinya.
Sementara itu, Kepala BPBD Berau, Masyhadi Mundi mengungkapkan bahwa Kabupaten Berau saat ini berstatus siaga darurat.
“Siaga darurat, Belum ditetapkan sebagai darurat bencana,” ujarnya.
“Jadi begini, di Kalimantan sebenarnya titik api merata. Angin kita ini bergeraknya dari selatan ke utara. Sementara kejadian di Kukar, Samarinda, dan Kubar juga tinggi, Sehingga kita juga terdapat asap,” sambungnya.
Dirinya menyampaikan bahwa Kabupaten Berau memang menjadi lokasi dengan titik api yang paling tinggi. Namun,kebakaran yang terjadi saat ini sekarang cukup merata. Jika dibandingkan dengan sebelumnya di Kabupaten Berau hanya di daerah Tanjung Batu dan sekitarnya, namun saat ini terdapat di Segah, Kelay, dan daerah bPesisir pula.
“Secara umum, saya dapat informasi dari BMKG Kalimantan terdapat 30 hari kondisi tanpa hujan sampai saat ini. Jadi itu juga yang memicu kabut asap ini. Jadi kabut asap bukan terjadi di kita saja, tapi seluruh Kaltim,” terangnya.
Untuk perubahan setatus pihaknya menunggu arahan dari Provinsi, dikarenakan kebakaran yang terjadi saat ini merata. Serta, pihaknya tengah melihat perkembangan, karena di Kaltim belum ada daerah yang menetapkan kondisi darurat, walaupun beberapa daerah cukup parah sedangkan Kabupaten Berau ini termasuk kondisi yang cukup kurang kondisi asap pekatnya.
Bahkan, Kata dia Kabupaten Paser menjadi titik kabut asap pekat yang tebal. Dikarenakan mereka sampai menurunkan water bombing, kemudian OMC, dan tim darat diperkuat.
Terkait Water bombing, dirinya saat ini terus berkoordinasi melalui zoom meeting dan pihak yang memberikan bantuan pun meminta kondisi bagaimana kondisi kebakaran yang terjadi di Kabupaten Berau.
“Water bombing ini kan kita harus ada kebakarannya di mana, nih, Nah, itu yang harus kita laporkan ke mereka, kita sih berharap mereka bisa bergeser ke bandara kita, Kalimarau,” jelasnya.
Terkait permohonan, pihaknya telah ajukan sejak bulan Agustus lalu. BPBD Berau pun telah melakukan tindak lanjut walaupun belum maksimal.
“Untuk kondisi sekarang kan kita perlu dan mereka tidak meminta permohonan baru, m tapi itu harus di tindak lanjut dengan komunikasi briefing setiap hari, ini yang dilakukan,” jelasnya.
Namun, dikarenakan wilayah Samarinda, Kukar, dan Kubar lebih tinggi dari tingkat Karhutlanya. Sehingga, mereka belum bisa bergeser.
“Kita sebenarnya perlu dan kita sudah berupaya dorong terus supaya mereka ke sini. Tapi penentunya ini berada di BNPB,” tuturnya.
Berdasarkan informasi yang didapatkan BPBD Berau dari Stasiun Meteorologi APT Peramadu Samarinda bahwa kabut asap ini terjadi, karena adanya tekanan dari atmosfer yang menahan di ketinggian tertentu 10.000 sampai 30.000 feet.
“Kita juga sempat hujan Kemudian kita ada hujan. Hujan sehari pada (16/9/26) lalu sehingga panas bumi juga menguap. Jadi bergabung dia dengan yang di atmosfer dengan ketinggian tertentu tadi sehingganya kabut semakin tebal,” terangnya. (*/)
Penulis: Muhammad Izzatullah
Editor: Dedy Warseto





