TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Status kampung di Kabupaten Berau terus menunjukkan perkembangan positif. Seluruh kampung kini telah keluar dari kategori sangat terpencil maupun terpencil dan sebagian besar telah naik kelas menjadi kampung berkembang, maju, hingga mandiri.
Namun, Pemkab Berau mengingatkan bahwa status tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kemandirian secara ekonomi.
Dalam kesempatannya. Sekda Berau, M Said, menilai tantangan terbesar yang kini dihadapi kampung bukan lagi soal peningkatan status, melainkan bagaimana mampu membiayai pembangunan tanpa bergantung penuh pada bantuan pemerintah.
Menurutnya, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat menjadi ujian nyata bagi ketahanan fiskal kampung.
Lanjutnya, berkurangnya dana transfer membuat sejumlah kampung ikut merasakan dampaknya, terutama dalam membiayai program pembangunan dan operasional pemerintahan.
“Selama ini kita berhasil meningkatkan status kampung. Alhamdulillah, kampung yang masuk kategori sangat terpencil maupun terpencil sudah tidak ada lagi. Sekarang banyak yang berkembang, maju bahkan mandiri. Tetapi ketika terjadi efisiensi anggaran, ternyata kita melihat kampung masih sangat merasakan dampaknya,” jelasnya .
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa status kampung mandiri belum sepenuhnya diikuti kemampuan menghasilkan pendapatan sendiri.
Hingga kini, kata dia, banyak kampung masih mengandalkan APBD maupun dana transfer untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk penghasilan tetap aparatur kampung.
Karena itu, menurutnya, paradigma pembangunan kampung perlu bergeser. Kampung tidak hanya mengejar peningkatan status administrasi, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi yang mampu menopang pembiayaan pembangunan secara berkelanjutan.
Salah satu strategi yang terus diperkuat Pemkab Berau adalah pengembangan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). Keberadaan BUMK diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus sumber Pendapatan Asli Kampung (PAK).
“BUMK harus benar-benar menjadi unit usaha yang produktif. Kalau mampu menghasilkan pendapatan, maka hasilnya bisa menjadi Pendapatan Asli Kampung dan dimasukkan ke dalam APBK untuk membiayai pembangunan maupun pelayanan kepada masyarakat,” bebernya.
Said menegaskan, keberhasilan kampung ke depan tidak lagi hanya diukur dari status berkembang, maju, atau mandiri, tetapi dari kemampuan mengelola potensi lokal menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Ia optimistis setiap kampung di Berau memiliki peluang untuk mewujudkan hal tersebut, asalkan mampu mengoptimalkan aset dan potensi yang dimiliki, baik di sektor pertanian, perikanan, pariwisata, maupun usaha lainnya.
“Tujuan akhirnya adalah kampung memiliki kemampuan membiayai pembangunan secara mandiri. Dengan begitu, pembangunan tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran dari pemerintah, tetapi juga ditopang oleh kekuatan ekonomi kampung itu sendiri,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





