TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Berau terus diperkuat. Salah satunya melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, khususnya bidan, agar mampu mendeteksi risiko kehamilan dan persalinan sejak dini serta memberikan pelayanan sesuai standar.
Melalui pelatihan Pelayanan Antenatal Care (ANC), persalinan, masa nifas, hingga Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau membekali tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dengan keterampilan klinis yang lebih komprehensif.
Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie melalui Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Sitti Zakiah, menjelaskan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan berorientasi pada keselamatan ibu maupun bayi.
“Tenaga kesehatan harus terus meningkatkan kompetensinya agar mampu memberikan pelayanan sesuai standar sekaligus mengenali faktor risiko sejak awal sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” ujarnya.
Ia menyebut, dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembaruan mengenai standar pelayanan selama masa kehamilan, proses persalinan, hingga perawatan ibu pada masa nifas.
Lanjutnya, selain penguatan aspek klinis, tenaga kesehatan juga dilatih mengidentifikasi tanda bahaya yang berpotensi menimbulkan komplikasi sehingga keputusan penanganan maupun rujukan dapat dilakukan secara tepat.
Menurut Sitti Zakiah, kemampuan mendeteksi risiko sejak dini menjadi salah satu faktor penting dalam menekan angka kematian ibu (AKI) maupun angka kematian bayi (AKB), karena setiap kondisi yang berpotensi membahayakan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih serius.
Pelatihan juga menitikberatkan pada pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) bagi bayi baru lahir. Para peserta dibekali teknik pengambilan sampel darah tumit (heel prick) yang benar, termasuk prosedur penanganan sampel agar hasil pemeriksaan laboratorium tetap akurat.
Skrining tersebut dinilai memiliki peran penting dalam mendeteksi gangguan hormon tiroid bawaan pada bayi sejak usia dini. Dengan diagnosis yang cepat, penanganan medis dapat segera diberikan sebelum bayi berusia satu bulan, sehingga risiko gangguan pertumbuhan, kecerdasan, maupun kecacatan permanen dapat diminimalkan.
Selain itu, tenaga kesehatan juga memperoleh pembekalan mengenai penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal, termasuk menentukan waktu yang tepat untuk merujuk pasien ke fasilitas kesehatan dengan layanan yang lebih lengkap.
“Harapannya, tenaga kesehatan semakin percaya diri dalam menjalankan kewenangannya sesuai standar profesi. Kompetensi yang terus meningkat akan berdampak langsung pada kualitas pelayanan yang diterima masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan sumber daya manusia kesehatan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun pelayanan kesehatan yang lebih baik.
“Dengan tenaga kesehatan yang kompeten, pelayanan bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir, hingga anak di Berau kita harapkan juga semakin optimal sekaligus mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





