TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemkab Berau melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) terus memfokuskan pembangunan kampung pada penguatan ketahanan pangan, peningkatan ekonomi lokal, serta percepatan kenaikan status kampung.
Dalam kesempatannya, Kepala DPMK Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan pembangunan kampung tidak hanya berorientasi pada pemenuhan infrastruktur dasar, tetapi juga harus mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi yang dimiliki masing-masing kampung.
Menurutnya, saat ini isu ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas yang harus diperkuat di tingkat kampung. Karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan Dana Desa, termasuk alokasi 20 persen yang diarahkan untuk mendukung sektor tanaman pangan.
“Ketahanan pangan menjadi isu yang sangat penting sekarang. Kampung harus mampu mempersiapkan diri, termasuk menyediakan kebutuhan pangan lokal seperti beras, ikan, telur, dan komoditas lainnya agar nantinya bisa mendukung program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.
Meski program tersebut belum sepenuhnya berjalan di Berau, kata Tenteram, persiapan perlu dilakukan sejak dini agar setiap kampung siap berkontribusi ketika program mulai dilaksanakan.
Ia juga menegaskan, DPMK tidak bisa bekerja sendiri dalam mewujudkan target tersebut. Kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah, seperti Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan, Dinas Pangan, hingga Dinas Perkebunan menjadi kunci dalam memperkuat sektor pertanian dan ekonomi desa.
“Kalau membangun kampung itu harus dikerjakan bersama. Tidak bisa hanya DPMK sendiri, tetapi perlu kolaborasi dengan berbagai pihak agar hasilnya maksimal,” katanya.
Selain ketahanan pangan, DPMK juga menargetkan peningkatan status kampung. Saat ini Berau memiliki 19 kampung berstatus mandiri dan diharapkan jumlah tersebut dapat kembali bertambah pada tahun mendatang.
“Kami optimistis status kampung mandiri bisa terus meningkat. Tentu ini membutuhkan kerja keras pemerintah kampung dalam menggerakkan perekonomian masyarakat dan meningkatkan pelayanan dasar,” jelasnya.
Tenteram menyebut, peningkatan status kampung juga didukung dengan pemenuhan fasilitas dasar. Salah satunya di Kampung Punan Malinau yang kini telah menikmati layanan listrik dari PLTS untuk 34 rumah warga. Sementara pembangunan sistem penyediaan air bersih juga hampir rampung.
Di sisi lain, DPMK terus mendorong setiap kampung mengembangkan produk unggulan. Produk tersebut tidak hanya dipasarkan sebagai hasil mentah, tetapi juga diarahkan untuk memiliki nilai tambah melalui proses hilirisasi.
Sebagai contoh, Kampung Punan Malinau memiliki potensi madu yang terus dikembangkan. Sementara sejumlah kampung lainnya didorong mengembangkan komoditas kakao dan sektor perkebunan lain dengan pendampingan bersama instansi terkait.
“Kami ingin setiap kampung memiliki produk unggulan yang kuat. Tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi juga memiliki produk olahan sehingga nilai ekonominya lebih tinggi, bahkan bisa masuk ke e-katalog pemerintah,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





