TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Gangguan internet yang sempat melumpuhkan konektivitas di sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Berau selama tiga hari akhirnya terungkap. Setelah sempat memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat, penyebab utama gangguan tersebut ternyata berasal dari putusnya kabel jaringan fiber optik (FO) yang tertanam di bawah tanah.
Wilayah yang terdampak meliputi kawasan semenanjung Berau, seperti Biatan, Talisayan hingga Biduk-Biduk. Selama tiga hari, aktivitas masyarakat yang bergantung pada akses internet mengalami kendala akibat terhentinya layanan jaringan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Berau, Didi Rahmadi, menjelaskan bahwa hasil penelusuran menunjukkan adanya kerusakan fisik pada jaringan utama.
“Kemarin itu tiga hari (gangguan). Ternyata setelah kami tanyakan, terjadi cut-off atau kabel putus,” katanya.
Menurutnya, kabel fiber optik yang membentang di jalur pesisir diduga terkena aktivitas penggalian sehingga mengalami kerusakan.
“Kabel FO di arah pesisir itu kan ditanam di bawah, berarti digaruk (terkena galian). Saya tidak tahu pasti apa yang digali dan siapa yang menggali, tapi kalau cut-off itu artinya kabelnya putus,” ujarnya.
Setelah titik gangguan berhasil ditemukan di kawasan Muara Lesan atau Miau, tim teknis segera melakukan perbaikan dengan menyambungkan kembali kabel yang terputus. Proses pemulihan jaringan telah dilakukan sejak Senin sore dengan target layanan dapat kembali normal secepatnya.
“Kemarin sore saya sudah tanya ke Pak Syarif (tim teknis), saat ini proses perbaikan sedang berjalan. Mudah-mudahan hari ini sudah bisa selesai karena sejak kemarin sore sudah dikebut perbaikannya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, luasnya wilayah Kabupaten Berau menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan gangguan jaringan. Ketika terjadi kerusakan, proses pencarian titik masalah kerap memerlukan waktu karena petugas harus menelusuri jalur kabel yang membentang sangat panjang.
Selain persoalan kabel putus, Diskominfo Berau juga mengakui masih adanya tantangan dalam pemerataan akses internet di sejumlah daerah terpencil, termasuk Kecamatan Kelay. Faktor investasi yang tinggi membuat pengembangan jaringan telekomunikasi di kawasan tersebut belum berjalan optimal.
Didi menjelaskan bahwa operator telekomunikasi umumnya memiliki sejumlah persyaratan sebelum memutuskan membangun infrastruktur jaringan baru.
“Pertama, dilihat dari jumlah penduduk, minimal ada 1.000 jiwa. Kemudian harus ada pasokan listrik yang stabil, serta infrastruktur jalan yang bagus agar mereka mudah mengangkut besi-besi untuk tower,” jelasnya.
Jarak antarkampung yang cukup jauh, ditambah minimnya permukiman di sepanjang jalur penghubung, menyebabkan biaya pembangunan jaringan menjadi jauh lebih mahal. Kondisi itu berdampak pada kapasitas layanan internet yang masih terbatas di beberapa wilayah pedalaman.
Meski demikian, kawasan yang mendapat dukungan investasi dari sektor swasta, terutama area perkebunan, tercatat memiliki kualitas koneksi yang lebih baik.
“Meski demikian, kawasan yang dikelola oleh perusahaan swasta, seperti perkebunan sawit di Merasa maupun Merapun, terpantau memiliki jaringan internet yang lancar karena mereka melakukan investasi mandiri,” terangnya.
Untuk mengurangi kesenjangan akses digital, Pemerintah Kabupaten Berau telah menyediakan layanan WiFi gratis di seluruh kampung guna menunjang pelayanan pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan.
“Pemerintah daerah sudah menyiapkan WiFi gratis. Jadi untuk keperluan pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan, insyaallah sudah terkaver di 100 kampung,” tegasnya.
Upaya tersebut semakin diperkuat dengan dukungan program internet satelit Starlink yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Kombinasi jaringan dari pemerintah daerah dan bantuan provinsi disebut telah meningkatkan kapasitas internet di banyak kampung. Bantuan Provinsi tersebut rata-rata 50 Mbps per kampung, sedangkan dari kita (Pemkab) ada 30 Mbps.
“Jadi kalau ditotal, saat ini di kampung-kampung sudah ada kapasitas sekitar 80 Mbps yang berjalan sejak tahun kemarin,” kuncinya. (Adv)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





