TANJUNG REDEB, PORTALBERAU-Jalan menuju panggung nasional bagi desa wisata di Kabupaten Berau tidak semudah memamerkan panorama alam atau membuat presentasi menarik.
Setiap peserta yang lolos lomba Pokdarwis harus siap menghadapi verifikasi lapangan ketat dari tim penilai provinsi.
, menegaskan bahwa penilaian desa wisata kini lebih menitikberatkan pada konsistensi pengelolaan dan dampak nyata terhadap masyarakat lokal.
“Di provinsi nanti ada verifikasi lapangan. Jadi mereka cek langsung, apakah yang dipresentasikan itu benar sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, proses tersebut menjadi tahap krusial sebelum desa wisata dapat melaju ke ajang nasional yang kini dikenal dengan nama WIA (Wonderful Indonesia Awards), pengganti Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Tahun ini, dari sekitar 37 Pokdarwis di Berau, hanya lima yang memenuhi syarat mengikuti lomba. Persyaratannya pun tidak sederhana. Selain wajib terdaftar dalam jejaring desa wisata nasional milik Kementerian Pariwisata, peserta juga harus memiliki Surat Keputusan (SK) Desa Wisata.
Lanjutnya, tak hanya administrasi, aspek pengelolaan menjadi perhatian utama tim penilai. Desa wisata dituntut menunjukkan adanya paket wisata aktif, kolaborasi dengan stakeholder, dampak ekonomi terhadap masyarakat, hingga kemampuan promosi digital.
“Mereka harus punya kerja sama dengan kampung, BUMK, akademisi, dan stakeholder lainnya. Kemudian harus ada dampak ekonomi yang nyata untuk masyarakat,” jelas Samsiah.
Ia menegaskan, Disbudpar Berau sengaja tidak mengejar jumlah desa wisata semata. Fokus utama justru pada kualitas dan keberlanjutan pengelolaan.
“Kita tidak ingin hanya banyak secara angka, tapi tidak hidup. Yang kita lihat adalah konsistensinya. Apakah mereka benar-benar mengelola potensi wisatanya atau tidak,” katanya.
Karena itu, desa wisata yang pernah menjuarai ajang tingkat provinsi maupun nasional tidak diperbolehkan ikut kembali. Kebijakan tersebut diterapkan agar desa wisata lain memiliki kesempatan berkembang dan naik kelas.
Nama-nama besar seperti Derawan dan Payung-payung yang pernah menorehkan prestasi sebelumnya kini tidak lagi masuk kompetisi. Sebagai gantinya, desa-desa wisata baru mulai bermunculan dan didorong untuk memenuhi standar nasional.
Selain lomba resmi, Disbudpar juga rutin menggelar Jambore Pokdarwis sebagai ruang belajar bersama antar pelaku wisata desa. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat pelatihan pelayanan prima, jurnalistik, media sosial, desain presentasi menggunakan Canva, hingga pemanfaatan teknologi AI untuk promosi wisata.
“Sekarang Pokdarwis kita sudah mulai keren-keren media sosialnya. Karena setiap tahun kita beri materi penguatan SDM dan digitalisasi,” ucapnya.
Bahkan tahun ini, Disbudpar mulai memperkenalkan konsep wisata baru berbasis alam dan kesehatan mental berupa forest healing. Paket tersebut masih dalam tahap simulasi sebelum nantinya resmi dipasarkan sebagai salah satu daya tarik wisata Berau.
Samsiah menilai, pertumbuhan desa wisata di Berau selama ini terjadi secara organik melalui kolaborasi komunitas, pemerintah, media, dan pelaku pariwisata. Model inilah yang disebut membuat Pokdarwis di Berau tetap aktif dibanding banyak daerah lain.
“Pariwisata itu tidak bisa jalan sendiri. Harus ada sinergi stakeholder. Makanya desa wisata di Berau tumbuhnya organik, bukan instan,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





