TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Persoalan sampah di Kabupaten Berau semakin menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Tingginya volume sampah harian disebut tidak sebanding dengan pemasukan retribusi kebersihan yang diterima pemerintah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau, Zulkifli Azhari, mengungkapkan bahwa produksi sampah di Berau kini berada pada kisaran 90 hingga 100 ton per hari.
Jumlah tersebut membuat kebutuhan operasional pengangkutan sampah terus membengkak, terutama untuk biaya bahan bakar armada.
“Biaya operasional kita, terutama untuk BBM, itu mencapai Rp3,5 miliar per tahun. Namun jika melihat angka retribusi sampah yang masuk, perbandingannya sangat jauh,” ungkapnya, Jumat (8/5/26).
Ia menjelaskan, penerimaan daerah dari sektor retribusi kebersihan saat ini hanya berkisar Rp800 juta sampai Rp900 juta per tahun. Nilai tersebut dinilai belum mampu menutup kebutuhan dasar operasional pengelolaan sampah.
Menurutnya, ketimpangan antara pengeluaran dan pemasukan tersebut membuat pemerintah daerah harus menanggung beban anggaran yang cukup besar melalui APBD.
Karena itu, DLHK Berau mulai mempertimbangkan revisi kebijakan terkait tarif retribusi kebersihan. Penyesuaian tarif dinilai penting karena besaran yang berlaku saat ini dianggap sudah tidak sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan pelayanan.
“Sudah saatnya kita melakukan penyesuaian, karena tarif yang ada sekarang sudah sangat lama tidak diperbarui. Kami sedang mengkaji aturan baru agar pengelolaan sampah bisa lebih mandiri dan maksimal,” ujarnya.
Selain soal pembiayaan, DLHK juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Penerapan konsep reduce, reuse, recycle (3R) disebut dapat membantu mengurangi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Saya berharap, dengan adanya penyesuaian tarif nantinya, pelayanan kebersihan di Kabupaten Berau bisa ditingkatkan secara signifikan demi kenyamanan warga,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





