GUNUNG TABUR, PORTALBERAU – Ratusan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan memadati Museum Batiwakkal, Kecamatan Gunung Tabur, dalam gelaran Festival Museum yang berlangsung pada 13–16 April.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau ini tak sekadar menghadirkan lomba, tetapi juga menjadi strategi menghidupkan kembali fungsi museum sebagai ruang edukasi yang menarik.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Berau, Nurjatiah, menjelaskan bahwa konsep kegiatan tahun ini dibuat lebih variatif agar mampu menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda.
“Kegiatan di museum tahun ini kami kemas lebih beragam dengan melibatkan peserta mulai dari TK hingga SMP,” ujarnya.
Sejumlah lomba digelar untuk memeriahkan festival, di antaranya lomba mewarnai dan tari kreasi untuk tingkat TK se-Kecamatan Gunung Tabur, lomba baca puisi tingkat SD se-Kabupaten Berau, hingga lomba bercerita Bahasa Berau untuk tingkat SMP.
Menurut Nurjatiah, museum tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi harus mampu bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup dan dekat dengan masyarakat.
“Dengan diadakannya lomba di museum, kami berharap kunjungan meningkat sehingga museum lebih dikenal luas dan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah,” jelasnya.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, festival ini juga membawa misi edukatif. Melalui pendekatan kreatif, pelajar diajak mengenal sejarah sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah dan bangsa.
“Kegiatan ini juga bertujuan membangun rasa nasionalisme melalui pemahaman sejarah,” katanya.
Ia menambahkan, keterlibatan peserta dalam berbagai lomba diharapkan mampu mendorong kreativitas sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya.
“Lomba di museum ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran pelestarian, sekaligus mendorong kreativitas peserta,” terangnya.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi antara museum, sekolah, komunitas, dan masyarakat umum. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi berkelanjutan.
Pihaknya berencana menjadikan Festival Museum sebagai agenda rutin tahunan dengan konsep yang terus dikembangkan. Bahkan, tema-tema khusus seperti Hari Pahlawan atau hari jadi daerah akan diangkat untuk memperkaya nilai edukasi kegiatan.
“Museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga pusat aktivitas edukasi dan budaya yang aktif di Berau,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor :Ikbal Nurkarim





