TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemkab Berau menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Pembangunan Berkelanjutan di Kecamatan Kelay, Selasa (14/4/26), bertempat di Sangalaki Hotel Mercure.
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk merumuskan langkah konkret percepatan pembangunan di wilayah Kelay, dengan melibatkan berbagai unsur lintas sektor.
Sekretaris Daerah Berau, M Said yang diwakili Asisten III Setda Berau, Maulidiyah, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mendorong pembangunan daerah.
Ia mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dinilai efisien namun tetap substansial, serta menghadirkan unsur pentahelix yang terdiri dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, hingga media massa.
“Kami sangat mengapresiasi DPMK dan seluruh jajaran atas terselenggaranya kegiatan ini. Forum ini sangat penting karena menghadirkan seluruh unsur pentahelix untuk bersama-sama memikirkan pembangunan Kelay,” ujarnya.
Maulidiyah menyebut Kecamatan Kelay sebagai wilayah strategis dengan potensi besar. Selain memiliki luas mencapai seperempat wilayah Kabupaten Berau, Kelay juga dikenal dengan produk unggulan seperti kakao yang telah menembus pasar nasional hingga internasional.
Tak hanya itu, potensi wisata seperti kawasan Bukit Merabu dan Danau Nyadeng disebut sebagai daya tarik kelas dunia. Di sisi lain, kekayaan budaya Adat Dayak juga menjadi identitas penting masyarakat setempat.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan pembangunan masih cukup besar. Berdasarkan data Indeks Desa Membangun (IDM) tahun 2025, dari 14 kampung di Kecamatan Kelay, belum terdapat kampung dengan status mandiri.
“Memang sudah tidak ada kampung tertinggal, tetapi baru satu kampung berstatus maju dan 13 lainnya masih berkembang. Artinya, pekerjaan rumah kita masih besar,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, tantangan utama terletak pada aspek layanan dasar dan aksesibilitas, terutama untuk kampung-kampung terpencil seperti Long Mapulu yang masih memiliki nilai aksesibilitas rendah.
Di tengah kondisi efisiensi anggaran dengan penurunan dana transfer hingga 50 persen, Pemkab Berau diminta tidak hanya bergantung pada APBD. Alternatif pembiayaan melalui APBN maupun kolaborasi dengan pihak swasta melalui program CSR dinilai perlu dioptimalkan.
“Jangan hanya bergantung pada APBD. Kita harus kreatif mencari sumber pendanaan lain, termasuk kolaborasi dengan perusahaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), khususnya pada sektor pendidikan, kesehatan, sosial, dan infrastruktur dasar, agar layanan dapat menjangkau seluruh masyarakat Kelay.
Forum rakor ini juga diharapkan mampu menghasilkan rumusan aksi nyata, terutama dalam percepatan pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan poros Kelay dan jalur alternatif Long Lanuk menuju Merapun.
“Kecamatan Kelay adalah wajah perbatasan. Jika orang masuk ke Berau melalui Kelay, maka yang terlihat haruslah wajah daerah yang maju,” ucapnya.
Ia pun menegaskan agar rakor ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan mampu melahirkan langkah konkret, terukur, dan berbasis data untuk mendorong percepatan pembangunan.
“Saya tidak ingin forum ini hanya menjadi agenda rutin yang minim output. Mari kita keroyok bersama pembangunan di Kelay agar desa-desa berkembang bisa segera naik status menjadi mandiri,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





