TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Berau membawa dampak positif sekaligus tantangan baru, terutama dalam pengelolaan lingkungan. Hal ini disampaikan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir.
Menurutnya, lonjakan wisatawan memberikan efek ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Berbagai sektor seperti kuliner, akomodasi, transportasi hingga usaha kecil lainnya turut merasakan dampak positif.
“Alhamdulillah masyarakat bisa panen cuan dari berbagai sektor, baik itu perdagangan, rumah makan, hingga jasa lainnya,” ujarnya.
Namun di balik itu, peningkatan jumlah pengunjung juga berbanding lurus dengan bertambahnya volume sampah, terutama di destinasi wisata unggulan.
Samsiah menegaskan, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan tersebut. Edukasi terkait pengelolaan sampah harus terus digencarkan, tidak hanya kepada pengunjung, tetapi juga pelaku usaha di sekitar objek wisata.
“Dari masyarakat sendiri harus bisa memberi contoh. Pengelolaan sampah harus siap, jangan sampai ada penumpukan dalam satu hari,” jelasnya.
Ia menuturkan, sistem pengelolaan sampah di kawasan wisata harus tertata dengan baik agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung. Penanganan yang cepat dinilai penting agar wisatawan tidak melihat adanya tumpukan sampah meski jumlah pengunjung membludak.
Selain itu, kata dia, Disbudpar juga menyiapkan strategi menghadapi lonjakan wisata yang bersifat musiman, salah satunya dengan menyediakan alternatif akomodasi seperti area glamping dan camping.
Menurutnya, konsep ini dinilai lebih praktis dan terjangkau, khususnya bagi wisatawan backpacker. Di sisi lain, fasilitas pendukung seperti toilet portable dan amenitas lainnya juga perlu disiapkan.
“Ini juga bisa menjadi peluang usaha bagi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) bekerja sama dengan BUMK,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) di setiap destinasi wisata, terutama dalam mengatur alur kunjungan wisatawan agar tidak terjadi penumpukan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kawasan wisata Labuan Cermin yang merupakan area konservasi. Menurutnya, pembatasan jumlah dan waktu kunjungan perlu diterapkan guna menjaga kelestarian lingkungan.
“Perlu ada pengaturan alur masuk dan keluar wisatawan. Bisa saja dibatasi 2 hingga 3 jam per kunjungan, bahkan jumlah pengunjung juga dibatasi, misalnya maksimal 100 orang dalam satu waktu,” jelasnya.
Langkah ini dinilai penting untuk menghindari kepadatan berlebih yang berpotensi merusak lingkungan, seperti kerusakan vegetasi maupun penumpukan sampah.
Dengan berbagai strategi tersebut, Disbudpar Berau berharap sektor pariwisata tetap tumbuh tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan.
“Yang terpenting adalah keseimbangan, bagaimana wisata tetap berjalan, ekonomi masyarakat meningkat, tetapi lingkungan tetap terjaga,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





