TANJUNG REDEB, PORTALBERAU- Keterbatasan produksi telur di Kabupaten Berau kembali menjadi sorotan. Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari, mengungkapkan bahwa kebutuhan telur dalam jumlah besar untuk kegiatan daerah masih belum mampu dipenuhi oleh peternak lokal.
Hal ini terlihat saat pelaksanaan kegiatan Bakti Praja beberapa waktu lalu. Menurut Sri, kebutuhan telur yang cukup tinggi terpaksa dipasok dari luar daerah karena produksi dalam daerah tidak mencukupi.
“Pada kegiatan Bakti Praja kemarin, kebutuhan telur cukup besar dan kita tidak bisa memenuhinya dari produksi lokal. Akhirnya harus menambah pasokan dari Sulawesi,” ungkapnya.
Lanjutnya, kondisi tersebut dinilai menjadi gambaran nyata bahwa sektor peternakan di Berau masih belum berkembang optimal.
Padahal, kata dia, kebutuhan bahan pangan seperti telur dan daging ayam merupakan kebutuhan dasar yang terus meningkat, seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas daerah.
Mala sapaan akrabnya menegaskan, lemahnya produksi lokal tidak hanya berdampak pada ketergantungan pasokan dari luar, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga atau inflasi, terutama pada komoditas pangan.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Kita ingin Berau tidak terus bergantung pada daerah lain untuk kebutuhan dasar. Swasembada pangan harus menjadi target yang serius,” tegasnya.
Politisi Partai Golkar tersebut pun mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius mengembangkan sektor peternakan, salah satunya dengan memaksimalkan pemanfaatan lahan tidur yang masih cukup luas di Berau.
Selain itu, dirinya menambahkan bahwa dukungan kepada peternak lokal juga dinilai perlu ditingkatkan, baik dari sisi bantuan, pelatihan, hingga akses pemasaran.
“Kalau potensi yang ada bisa dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin kebutuhan telur, ayam, bahkan komoditas lain bisa dipenuhi secara mandiri. Ini juga akan berdampak langsung pada pengendalian inflasi daerah,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





