BATU PUTIH, PORTALBERAU– Wakil Bupati Berau, Gamalis, melakukan monitoring dan evaluasi ke wilayah pesisir selatan. Kunjungan ini turut didampingi Asisten I Setda Berau, M Hendratno, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Salah satu lokasi yang ditinjau adalah objek wisata alam Tulung Nilenggo atau Danau Biru di Kampung Tembudan, Kecamatan Batu Putih.
Gamalis menyebut Danau Biru sebagai kekayaan wisata alam yang memiliki keunikan tersendiri dan patut dijaga kelestariannya. Ia menegaskan bahwa pengembangan kawasan wisata tidak boleh merusak keaslian alam, terlebih kawasan tersebut juga menjadi sumber air baku warga.
“Ini bukan hanya objek wisata, tetapi juga sumber air minum. Daerah inti ini tidak boleh diganggu,” tegasnya.
Ia menambahkan, kehadiran pihak ketiga dalam pengelolaan wisata dimungkinkan, namun harus tetap mengedepankan perlindungan kawasan dan memberikan porsi besar bagi masyarakat lokal.
“Kalau ada investor masuk, minimal 80 persen tenaga kerja harus dari masyarakat lokal. UMKM lokal juga harus diutamakan. Jangan sampai kita tersisih di daerah sendiri,” ucapnya.
Menurutnya, kerja sama dengan investor bisa meningkatkan kualitas pengelolaan objek wisata dan pendapatan kampung, namun batasan dan perlindungan kawasan harus tertuang jelas dalam perjanjian kerja sama.
“Orientasi investor biasanya profit, sementara kita bertugas menjaga alam. Jadi regulasi harus jelas. Area inti tidak boleh disentuh sama sekali,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Gamalis juga menegaskan bahwa kunjungan monitoring ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi libur Natal dan tahun baru (Nataru), saat kunjungan wisatawan meningkat.
“Kita ingin memastikan destinasi dalam kondisi siap menerima wisatawan. Keamanan, kenyamanan, dan kebersihan harus terjaga, karena Nataru biasanya menjadi momentum naiknya kunjungan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya perbaikan jalur akses, terutama jalur turun menuju danau yang dinilai licin. Namun perbaikan diminta tetap mempertahankan aspek natural kawasan.
“Cukup dikasari saja, jangan disemen. Kalau disemen nanti hilang naturalnya,” katanya.
Gamalis menegaskan bahwa semua keputusan pengembangan wisata harus memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengorbankan lingkungan.
“Kita ingin wisata berkembang, tapi alam tetap terjaga dan masyarakat lokal merasakan manfaatnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Kampung Tembudan, Zainuddin Rahim, membenarkan bahwa sudah ada investor yang berminat mengembangkan wisata Tulung Nilenggo.
Ia menyebut pembahasan Memorandum of Understanding (MoU) masih berjalan, termasuk durasi perjanjian dan besaran kontribusi untuk kampung.
“Investornya menawarkan pendapatan lebih dari Rp100 juta per tahun untuk kampung. Tapi MoU-nya belum kami baca lengkap. Nanti kita pelajari bersama,” jelasnya.
Zainuddin menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat lokal menjadi syarat utama dalam kerja sama. Mulai dari perekrutan tenaga kerja hingga pemberdayaan UMKM lokal.
“Kami minta 80 persen karyawannya nanti dari kampung. SDM kami sudah mampu, banyak anak muda yang siap bekerja,” tuturnya.
Saat ini pengelolaan wisata menghasilkan pendapatan sekitar Rp30 juta per tahun untuk kas kampung.
Tawaran investor dinilai menguntungkan, selama tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat serta tetap menjaga kelestarian alam.
Ia juga memastikan bahwa rencana tersebut telah dikoordinasikan dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau.
“Respon mereka bagus, karena tidak membebani pemerintah daerah,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





