TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Sektor perikanan budidaya Kabupaten Berau menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Dinas Perikanan (Diskan) Berau bahkan memperkirakan produksi hingga penghujung tahun dapat kembali melampaui capaian tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan pihaknya menetapkan target produksi perikanan budidaya 2026 sebesar 2.300 ton. Angka tersebut mencakup produksi dari tiga subsektor, yakni budidaya air payau, air tawar, dan budidaya laut.
Menurutnya, kontribusi terbesar dalam target tersebut berasal dari budidaya air payau dengan sasaran 1.200 ton. Sementara budidaya air tawar yang mencakup komoditas nila, lele, dan patin ditargetkan menghasilkan sekitar 600 ton. Adapun 400 ton sisanya diharapkan berasal dari budidaya laut.
“Kalau digabungkan, target air payau dan air tawar mencapai 1.800 ton. Kemudian untuk melengkapi target 2.300 ton, sekitar 400 ton diharapkan berasal dari produksi budidaya laut,” ujarnya, Kamis (27/8/26).
Namun, target tersebut dinilai masih cukup realistis untuk dilampaui. Pasalnya, produksi perikanan budidaya Berau pada 2025 tercatat sekitar 3.200 ton, jauh di atas target yang sebelumnya ditetapkan.
Budiono menyebut perkembangan produksi hingga saat ini juga memberikan optimisme. Capaian sementara telah mendekati 2.800 ton sehingga masih terdapat peluang untuk menambah produksi hingga akhir tahun.
“Posisi capaian sekarang sudah mendekati 2.800 ton. Jadi kami melihat peluang untuk melewati capaian tahun 2025 masih terbuka, meskipun di lapangan tetap ada sejumlah tantangan,” katanya.
Salah satu kendala yang kini turut memengaruhi produksi ialah kondisi cuaca ekstrem serta dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut terutama berpengaruh terhadap produktivitas pembudidaya air tawar.
“Untuk air tawar memang ada sedikit penurunan grafik produksinya. Kondisi ekstrem dan dampak karhutla menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap aktivitas budidaya,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Diskan Berau terus memperkuat pendampingan kepada pembudidaya. Upaya dilakukan melalui penyuluhan dan bimbingan teknis guna meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha budidaya.
Selain itu, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) didorong lebih aktif mendampingi pembudidaya dalam penggunaan teknologi. Diskan juga mempertahankan kerja sama dengan sejumlah mitra pembangunan, termasuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan WWF, terutama dalam penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Pendampingan tidak hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana pembudidaya bisa menerapkan teknologi yang tepat. Kami juga terus mendorong pengembangan budidaya yang tidak terlalu bergantung pada pakan,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





