TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau mulai terasa pada sektor kesehatan. Paparan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah membuat masyarakat, khususnya kelompok rentan, semakin berisiko mengalami gangguan pernapasan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Berau mencatat sebanyak 3.288 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah ditangani melalui puskesmas di berbagai wilayah hingga awal Agustus 2026.
Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie, mengatakan angka tersebut terdiri dari 2.533 kasus yang tercatat sepanjang Juli dan 755 kasus pada pekan pertama Agustus. Menurutnya, jumlah tersebut masih bersifat sementara dan dapat bertambah apabila kondisi karhutla serta kualitas udara belum membaik.
“Data yang kami miliki saat ini masih sementara. Dengan kondisi karhutla yang masih terjadi di sejumlah titik, kasus gangguan pernapasan sangat mungkin mengalami peningkatan,” katanya, Senin (24/8/26).
Peningkatan kunjungan pasien juga mulai terlihat di fasilitas kesehatan. Di Puskesmas Tanjung Redeb, misalnya, jumlah pasien dengan keluhan gangguan pernapasan mengalami kenaikan cukup tajam selama periode kabut asap.
Dokter Umum Puskesmas Tanjung Redeb, dr. Nina Damayanti, menyebut jumlah kunjungan pasien yang sebelumnya berada di kisaran 126 orang meningkat menjadi sekitar 324 pasien.
“Jumlah kunjungan pasien mengalami kenaikan yang cukup besar. Dari sebelumnya sekitar 126 pasien, sekarang sudah mencapai 324 pasien. Keluhan pernapasan cukup banyak, terutama pada anak-anak dan kelompok lanjut usia,” ungkap Nina.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kualitas udara yang buruk dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan. Jika karhutla terus berlangsung dan asap semakin pekat, jumlah masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan diperkirakan dapat kembali bertambah.
Karena itu, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada dalam kondisi tidak sehat. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.
“Ketika kondisi udara sedang buruk, sebaiknya masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah. Kalau memang harus beraktivitas di luar, gunakan masker untuk mengurangi paparan asap,” jelasnya.
Nina memastikan fasilitas kesehatan masih memiliki persediaan obat-obatan dan oksigen yang cukup untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat.
“Kami masih memastikan ketersediaan obat dan oksigen untuk pelayanan pasien. Sampai sekarang persediaannya masih aman dan dapat digunakan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Selain mengurangi paparan asap, masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi serta mencukupi kebutuhan vitamin. Warga yang mulai mengalami gejala seperti batuk, sesak napas, tenggorokan tidak nyaman atau keluhan pernapasan lainnya dianjurkan segera mendatangi fasilitas kesehatan.
Keluhan serupa juga dirasakan masyarakat. Annisa Oktadianti, warga Tanjung Redeb, mengaku kabut asap dalam beberapa hari terakhir mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ia mengatakan paparan asap membuat tenggorokan terasa tidak nyaman dan mata mudah mengalami iritasi, terutama ketika beraktivitas di luar rumah.
“Asap beberapa hari terakhir cukup terasa. Tenggorokan menjadi kurang nyaman dan mata juga terkadang terasa perih ketika berada di luar. Kami berharap karhutla segera ditangani agar kondisi udara kembali membaik dan masyarakat tidak terus terdampak,” ungkapnya.
Pemerintah dan fasilitas kesehatan pun terus memantau perkembangan kasus ISPA seiring kondisi kualitas udara yang masih dipengaruhi kabut asap. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim




