TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Potensi perikanan Kabupaten Berau yang melimpah dinilai belum memberikan nilai ekonomi maksimal. Selama bertahun-tahun, sebagian besar hasil tangkapan nelayan masih dipasarkan dalam kondisi segar, sehingga peluang menciptakan produk bernilai tambah belum tergarap optimal.
Melihat kondisi tersebut, Dinas Perikanan Kabupaten Berau menggagas Program Hilir Berau, sebuah inovasi yang menjadi proyek perubahan Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid.
Program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk mempercepat pengembangan industri pengolahan hasil perikanan, dengan fokus pada produk pengalengan ikan premium yang memiliki daya saing lebih tinggi.
Abdul Majid menjelaskan, transformasi sektor perikanan tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan bahan baku. Menurutnya, daerah dengan potensi sumber daya laut sebesar Berau harus mampu menghasilkan produk olahan yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat.
“Melalui potensi yang kita miliki, kami melakukan langkah inovatif agar hasil perikanan tidak hanya dijual sebagai ikan segar, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Perikanan, potensi perikanan Berau mencapai sekitar 104.915 ton per tahun. Namun, produksi hasil olahan baru menyentuh 3.779 ton per tahun, atau sekitar 3,6 persen dari total potensi tersebut. Angka ini menunjukkan masih besarnya ruang pengembangan industri hilir di sektor perikanan.
Menurut Abdul Majid, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi daerah. Jika pengolahan hasil laut diperkuat, maka manfaat ekonomi yang selama ini hilang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku usaha pengolahan ikan.
“Hilirisasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan daya saing sektor perikanan kita,” tegasnya.
Melalui Program Hilir Berau, Dinas Perikanan menyiapkan strategi terpadu yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi olahan, tetapi juga membangun ekosistem industri perikanan yang lebih kuat. Program ini selaras dengan arah pembangunan nasional melalui penguatan ekonomi biru (Blue Economy) dan hilirisasi sumber daya lokal.
Tak hanya menyasar industri besar, program tersebut juga membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penguatan kapasitas UMKM pengolahan ikan menjadi salah satu fokus agar manfaat hilirisasi dapat dirasakan hingga tingkat masyarakat.
Proyeksi yang disusun dalam proyek perubahan itu menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Nilai ekonomi hasil perikanan diperkirakan mampu meningkat hingga 3,62 kali lipat atau sekitar 262 persen dibandingkan apabila produk hanya dijual dalam bentuk mentah.
Sementara itu, rata-rata pendapatan UMKM pengolahan ikan diperkirakan dapat meningkat dari sekitar Rp8 juta menjadi Rp29 juta per bulan.
Selain meningkatkan pendapatan pelaku usaha, hilirisasi juga diproyeksikan mampu menarik investasi baru, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memperkuat posisi Berau sebagai salah satu daerah penghasil produk perikanan unggulan di Kalimantan Timur.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy. Menurutnya, langkah yang diambil Dinas Perikanan Berau merupakan fondasi penting dalam membangun industri perikanan yang berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi pemilihan fokus hilirisasi ini. Ini menjadi dasar sebelum melangkah menuju industrialisasi yang lebih besar,” katanya.
Ia berharap Program Hilir Berau tidak berhenti sebagai bagian dari proyek perubahan semata, melainkan berkembang menjadi kebijakan berkelanjutan yang terus diperkuat setiap tahunnya.
“Jangan hanya menjadi parade proyek perubahan. Program ini harus benar-benar diimplementasikan sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




