TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Komitmen Pemkab Berau dalam menjaga kelestarian budaya daerah terus diperkuat. Melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Berau, pemerintah resmi meluncurkan penerapan kurikulum muatan lokal Bahasa Banua untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebagai langkah strategis menanamkan kecintaan terhadap bahasa daerah sejak usia sekolah.
Peluncuran program tersebut dilaksanakan di UPT SPNF SKB Berau, Kamis (2/7/26) kemarin, sekaligus menandai dimulainya implementasi pembelajaran Bahasa Banua di lingkungan SMP.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga eksistensi bahasa daerah agar tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda di tengah perkembangan zaman.
Dalam kesempatannya, Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah, menjelaskan bahwa penerapan muatan lokal Bahasa Banua diawali dengan penyusunan modul pembelajaran yang telah resmi diluncurkan bersamaan dengan program tersebut. Modul tersebut akan menjadi pedoman utama bagi guru dalam menyampaikan materi kepada para siswa.
“Setiap pengajar yang bertugas harus memperhatikan bahan ajar. Modul yang sudah kita launching itu yang digunakan nanti sebagai bahan ajar di SMP,” ungkapnya.
Lanjutnya, pembelajaran Bahasa Banua tidak hanya bertujuan menambah materi pelajaran di sekolah, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas masyarakat Berau.
Ia menegaskan, Disdik Berau juga tengah menyiapkan sejumlah kebijakan lanjutan untuk memperluas penggunaan Bahasa Banua, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
“Untuk melestarikan bahasa itu sendiri, baik di lingkungan sehari-hari maupun di sekolah. Insyaallah, kami juga akan mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mendorong penggunaan Bahasa Banua,” katanya.
Ia menyebut, guna mendukung pelaksanaan program tersebut, Disdik Berau telah menunjuk koordinator serta guru yang akan mengampu mata pelajaran muatan lokal Bahasa Banua.
Saat ini, pihaknya juga mengupayakan agar tenaga pengajar yang ditunjuk memiliki latar belakang atau kompetensi yang selaras dengan mata pelajaran yang diajarkan.
“Kami sudah menunjuk koordinator dan guru. Saat ini juga sedang diupayakan agar mata pelajaran tersebut linier dengan bidang yang diampu,” jelasnya.
Mardiatul menuturkan, guru Bahasa Indonesia yang berasal dari keturunan masyarakat Berau maupun guru yang memiliki minat mempelajari dan mengajarkan Bahasa Banua berpeluang menjadi pengampu mata pelajaran tersebut.
Tak hanya berdampak pada pelestarian budaya, kebijakan ini kata dia, juga memberikan manfaat bagi tenaga pendidik, khususnya guru yang masih membutuhkan tambahan jam mengajar.
“Jadi banyak keuntungannya. Bahasa Banua bisa tersosialisasikan atau dilestarikan dengan baik. Dan bagi guru yang kurang jam mengajar, itu bisa ditugaskan untuk mengajar Bahasa Banua sehingga jam mengajar mereka cukup,” paparnya.
Melalui implementasi kurikulum muatan lokal ini, Disdik Berau berharap Bahasa Banua semakin dikenal, dipelajari, dan digunakan oleh generasi muda.
“Langkah tersebut sekaligus menjadi investasi jangka panjang kita dalam menjaga warisan budaya daerah agar tetap lestari dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Berau di masa mendatang,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





