TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi informasi di era digital mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau melakukan transformasi layanan.
Tidak lagi hanya mengandalkan buku cetak, Dispusip kini memanfaatkan teknologi digital untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga eksistensi perpustakaan di tengah semakin dominannya penggunaan gawai dan media digital dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan teknologi menjadi sasaran utama dalam penguatan budaya membaca melalui berbagai layanan berbasis digital.
Dalam kesempatannya, Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, mengatakan bahwa tantangan dunia literasi saat ini bukan hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga bagaimana menghadirkan akses pengetahuan yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat modern.
Menurutnya, minat generasi muda untuk membaca buku secara konvensional memang mengalami perubahan. Namun kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah dalam meningkatkan budaya baca.
“Digitalisasi bukan ancaman bagi literasi. Justru ini menjadi peluang besar untuk memperluas akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan bahan bacaan,” ujarnya.
Karena itu, Dispusip Berau terus mengembangkan berbagai layanan dan konten digital yang lebih mudah diakses masyarakat. Strategi tersebut diharapkan mampu menjangkau kalangan muda yang selama ini lebih akrab dengan teknologi dibandingkan metode pembelajaran konvensional.
Rabiatul menilai Generasi Z memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat baik terhadap perkembangan teknologi. Potensi itu, kata dia, harus diarahkan untuk membangun budaya literasi yang kuat sehingga generasi muda tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu memperkaya wawasan melalui kebiasaan membaca.
“Mulai sekarang kita harus memanfaatkan digitalisasi sebagai sarana untuk menumbuhkan minat baca generasi muda,” katanya.
Meski memasuki era digital, Rabiatul menegaskan bahwa peran buku tetap tidak tergantikan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Baik dalam bentuk cetak maupun digital, buku masih menjadi fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang cerdas dan berdaya saing.
“Buku adalah jendela dunia, dan membaca merupakan gerbang menuju peradaban yang lebih maju,” tuturnya.
Sebagai bagian dari transformasi layanan, Dispusip Berau kini tidak hanya menyediakan koleksi buku fisik, tetapi juga menghadirkan fasilitas komputer, koleksi buku digital, hingga layanan perpustakaan keliling yang menjangkau berbagai wilayah di Kabupaten Berau.
Lanjutnya, beragam fasilitas tersebut disiapkan untuk memberikan kemudahan akses informasi bagi masyarakat sekaligus menciptakan pengalaman membaca yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Menariknya, kata dia, masyarakat tidak diwajibkan menjadi anggota untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia di perpustakaan daerah. Dispusip membuka akses seluas-luasnya bagi warga yang ingin membaca, belajar, maupun mencari referensi.
“Perpustakaan terbuka untuk umum. Tidak harus menjadi anggota untuk datang dan memanfaatkan fasilitas yang ada,” jelasnya.
Meski demikian, masyarakat yang terdaftar sebagai anggota tetap mendapatkan keuntungan tambahan berupa layanan peminjaman buku secara gratis untuk dibawa pulang dalam jangka waktu tertentu.
Melalui berbagai inovasi tersebut, Dispusip Berau berharap perpustakaan tidak lagi dipandang sekadar tempat menyimpan buku, melainkan menjadi pusat literasi modern yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat di era digital.
“Kami ingin perpustakaan menjadi ruang belajar yang nyaman, tempat menambah wawasan, sekaligus pusat literasi yang ramah bagi semua kalangan,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





