TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Program pengiriman siswa dari Kabupaten Berau ke Sekolah Rakyat (SR) Samarinda kembali berlanjut pada tahun ajaran baru 2025. Namun, jumlah peserta yang diberangkatkan jauh di bawah target awal akibat minimnya persetujuan dari orang tua.
Dinas Sosial (Dinsos) Berau memastikan hanya tujuh anak yang akan berangkat untuk mengikuti pendidikan di SR Samarinda. Padahal sebelumnya pemerintah daerah menargetkan sedikitnya 11 peserta dapat mengikuti program tersebut.
Kepala Dinsos Berau, Iswahyudi, mengatakan kendala terbesar bukan terletak pada proses seleksi, melainkan kesiapan keluarga untuk melepas anak mereka menempuh pendidikan di luar daerah.
“Problem utamanya itu adalah persetujuan orang tua. Kalau anak SD terus jauh dari orang tua, pasti berat. Anak SMP dan SMA juga tidak semua orang tua setuju, padahal itu syarat utama,” ujarnya.
Menurutnya, kekhawatiran orang tua cukup beralasan karena sebagian peserta masih berada pada usia sekolah dasar hingga menengah. Kondisi tersebut membuat banyak keluarga memilih menunda atau membatalkan keikutsertaan anak mereka dalam program pendidikan berasrama tersebut.
Iswahyudi mengungkapkan, pentingnya dukungan keluarga juga didasarkan pada pengalaman yang pernah terjadi terhadap salah satu peserta asal Berau yang menempuh pendidikan di SR Samarinda.
“Kita punya kasus, ada anak SD yang kami tidak tahu masalah utamanya apa, tiba-tiba tidak mau sekolah dan malah mengurung diri di kamar terus,” ungkapnya.
Di sisi lain, rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Berau sendiri hingga kini belum dapat direalisasikan. Meski wacana tersebut sudah pernah dibahas, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaannya harus ditunda.
“SR tahun ini belum memungkinkan digarap di sini. Kebetulan anggaran tahun ini masuk ke alokasi Dinas PU untuk pembangunan jalan ke fasilitasnya di Jalan Rahmat Hidayat, Simpang 3 Maluang. Jadi untuk operasional sekolahnya belum bisa,” jelasnya.
Karena belum memiliki fasilitas pendidikan serupa, Pemkab Berau masih mengandalkan SR Samarinda sebagai lokasi pembelajaran bagi anak-anak yang terpilih mengikuti program tersebut.
Terkait dukungan pemerintah daerah, Iswahyudi menegaskan tidak ada bantuan rutin yang diberikan selama peserta menjalani pendidikan. Namun, Dinsos tetap menjamin kebutuhan transportasi para siswa saat keberangkatan maupun ketika pulang ke Berau pada masa liburan.
“Bantuan rutin dari pemerintah daerah memang tidak ada untuk mereka. Kecuali untuk urusan transportasi keberangkatan atau saat mereka pulang liburan, itu penuh kita support melalui Dinas Sosial,” kuncinya. (*/).
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





