MARATUA, PORTALBERAU– Kunjungan Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, ke embung air bersih di Pulau Maratua menghasilkan temuan penting yang berpotensi menghemat anggaran daerah hingga Rp10 miliar.
Efisiensi tersebut akan dilakukan melalui pemindahan instalasi pengelolaan air bersih yang saat ini berada di lokasi lama ke area yang lebih dekat dengan embung.
Langkah tersebut dinilai menjadi solusi strategis untuk mempercepat distribusi air bersih kepada masyarakat sekaligus mengoptimalkan infrastruktur yang telah tersedia.
Saat meninjau langsung kondisi embung, Sri Juniarsih mengatakan masih terdapat sejumlah pekerjaan lanjutan yang perlu diselesaikan agar fasilitas tersebut dapat berfungsi maksimal.
Namun, kata dia, dari hasil evaluasi di lapangan, pemerintah daerah menemukan opsi yang jauh lebih efisien dibandingkan membangun sistem baru.
“Sekaligus kami mengecek beberapa pekerjaan embung yang masih membutuhkan pekerjaan lanjutan. Tetapi ada kesimpulan yang kami temukan, kita bisa menghemat sekitar Rp10 miliar dengan memindahkan alat pengelola air bersih yang ada di lokasi lama ke dekat embung agar bisa disalurkan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, lahan untuk relokasi instalasi tersebut telah tersedia sehingga proses pemindahan dapat segera dipersiapkan. Pemerintah Kabupaten Berau berencana mengalokasikan anggaran melalui APBD Perubahan 2026 untuk mendukung pekerjaan awal di lokasi baru.
“Lahannya sudah ada. Mudah-mudahan dalam waktu dua bulan melalui APBD Perubahan bisa mulai dipersiapkan di lahan kosong tersebut untuk pemindahan alat, sehingga kita bisa menghemat anggaran yang cukup besar,” katanya.
Sri menegaskan, penyediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat Maratua yang harus segera ditangani. Meski kapasitas layanan yang tersedia nantinya belum sepenuhnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga, langkah tersebut dinilai sebagai progres penting dalam meningkatkan akses air bersih di wilayah kepulauan.
“Air bersih ini kebutuhan masyarakat yang harus kita selesaikan. Walaupun mungkin belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, paling tidak ada upaya nyata untuk meningkatkan layanan yang ada,” jelasnya.
Terkait wacana penggunaan teknologi desalinasi air laut, Sri mengakui opsi tersebut masih terus dikaji. Namun, berbagai pertimbangan teknis dan besarnya biaya investasi membuat pemerintah daerah memilih langkah yang lebih realistis dalam jangka pendek.
“Untuk desalinasi banyak pertimbangannya dan biayanya juga tidak murah. Karena itu, tahun ini target kita menyiapkan segala sesuatunya, termasuk pondasi dan kebutuhan pendukung lainnya. Kemudian pada tahun 2027 kita mulai progres pemindahan alat pengelola air bersih tersebut,” ungkapnya.
Melalui skema ini, Pemkab Berau berharap persoalan ketersediaan air bersih di Maratua dapat ditangani secara bertahap dengan tetap mengedepankan efisiensi anggaran, sehingga manfaatnya bisa lebih cepat dirasakan masyarakat. (Adv)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





