TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Manajemen RSUD Abdul Rivai memberikan klarifikasi terkait isu kekosongan obat yang sempat menjadi perhatian publik. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Berau dan Dinas Kesehatan Berau yang digelar Senin (27/4/2026) di Ruang Rapat Gabungan Sekretariat DPRD Berau, pihak rumah sakit menegaskan bahwa pelayanan kesehatan tetap berjalan normal.
Direktur RSUD Abdul Rivai, Jusram, menepis anggapan bahwa rumah sakit mengalami kekosongan total obat maupun layanan. Ia menegaskan bahwa pelayanan rawat inap maupun rawat jalan tetap berlangsung seperti biasa.
“Kami perlu luruskan bahwa kosong bukan berarti tidak ada, buktinya kami masih melayani rawat inap, pelaksanaan 13 poli juga masih berjalan,” ujarnya dalam forum tersebut.
Menurutnya, memang terdapat beberapa jenis obat yang saat ini tidak tersedia. Namun, tenaga kesehatan masih dapat mengantisipasi kondisi tersebut dengan menggunakan obat alternatif yang memiliki fungsi serupa.
“Hanya saja memang ada beberapa obat yang kosong tapi kami nakes masih memiliki substitusi. Misalnya seperti obat kolesterol A kami masih bisa menggunakan obat kolesterol B,” jelasnya.
Pihaknya mengungkapkan bahwa keterbatasan obat tersebut tidak lepas dari kendala administratif yang terjadi pada pihak penyedia atau vendor. Beberapa di antaranya terkait kelengkapan berkas serta keterlambatan dalam proses penagihan.
“Kenapa demikian, ada beberapa hal yang menjadi alasan seperti kelengkapan berkas vendor dan keterlambatan penagihan vendor dalam melakukan penagihan,” katanya.
Ia juga mengakui adanya utang pihak rumah sakit kepada vendor. Namun, kondisi tersebut disebut bukan sepenuhnya akibat kesalahan manajemen rumah sakit, melainkan karena lambatnya proses administrasi dari pihak vendor.
“Jadi memang ada utang dari RSUD Abdul Rivai namun sepenuhnya bukan kesalahan kami, tapi dari vendor memang keterlambatan administrasi. Seperti tagihan yang sedikit tapi pemberkasan mereka cukup lambat,” terangnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak rumah sakit telah berkoordinasi dengan vendor agar tetap memasok obat yang mengalami kekosongan, yang jumlahnya sempat mencapai sekitar 164 jenis.
“Kami menyampaikan kepada vendor untuk tetap memberikan obat yang mengalami kekosongan di tempat kami sekitar 164 jenis. Dengan kesepakatan kami tetap membayar utang bahkan per dua minggu,” pungkasnya.
Ia menambahkan, hingga April 2026, pengadaan obat di RSUD Abdul Rivai telah mencapai sekitar 600 item sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





