TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Pameran seni rupa bertajuk “Serak Sorai” resmi digelar pada 18–28 April 2026 di kawasan Jalan Al Bina, Gang Masyhuda 2, Tanjung Redeb. Diinisiasi oleh kolektif Tanaruai, pameran ini menawarkan ruang refleksi atas kompleksitas pengalaman hidup yang tidak pernah hadir secara utuh.
Mengangkat tema tentang lapisan pengalaman manusia, “Serak Sorai” menyoroti bagaimana kehidupan sehari-hari terbentuk dari pengalaman langsung, ingatan, cerita, hingga imajinasi.
Semua elemen tersebut saling bertumpuk dan memengaruhi cara individu memahami dunia di sekitarnya.
Pemimpin Produksi pameran, Seto Kumoro, menjelaskan bahwa pendekatan ini berangkat dari kesadaran akan tubuh sebagai ruang yang hidup dan dinamis.
“Kami melihat tubuh bukan hanya sebagai sesuatu yang mengalami, tetapi sebagai ruang yang menyimpan jejak dari berbagai pengaruh baik sosial, lingkungan, maupun emosional,” ujarnya.
Dalam pameran ini, hubungan antara tubuh dan ruang menjadi salah satu fokus utama. Perubahan lanskap tidak hanya ditampilkan secara visual, tetapi juga melalui pengalaman yang lebih subtil yang memengaruhi cara manusia merasakan dan merespons lingkungannya.
Berbagai karya yang ditampilkan merefleksikan pergeseran ruang hidup, mulai dari yang hilang, berubah fungsi, hingga yang tak lagi dapat diakses.
Seto menambahkan bahwa perubahan tersebut tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga membentuk pengalaman batin dan relasi sosial.
“Ada ketegangan yang terus hadir, antara keterlibatan dan jarak, antara kesadaran dan ketidaksadaran. Pameran ini mencoba menangkap posisi manusia yang sering kali tidak pernah benar-benar pasti,” jelasnya.
Selain itu, “Serak Sorai” juga menyoroti bagaimana pengalaman dapat terbentuk melalui medium tidak langsung, seperti cerita dan ingatan kolektif. Dalam pertemuan antara pengalaman nyata dan yang dimediasi, muncul cara baru dalam merasakan kedekatan sekaligus menyadari adanya jarak.
Pameran ini juga membuka perspektif bahwa praktik sehari-hari dapat menjadi bentuk pengetahuan. Aktivitas yang berulang dan kerap dianggap sepele justru menyimpan pemahaman mendalam tentang kehidupan dan ruang.
Sebagai ruang pertemuan berbagai suara, “Serak Sorai” menghadirkan keberagaman ekspresi dari yang lantang hingga yang tertahan. Melalui keberagaman tersebut, publik diajak untuk lebih peka terhadap hal-hal yang sering terlewat.
“Lebih dari sekadar pameran, ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak, mendengar, dan melihat ulang bagaimana kita berada di tengah perubahan,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





