TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Ancaman abrasi di Pulau Derawan kian mengkhawatirkan. Pemerintah Kampung setempat mendesak agar penanganan segera direalisasikan, mengingat kondisi abrasi yang disebut telah mencapai lebih dari 300 meter dan terus menggerus kawasan pesisir.
Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika, mengungkapkan bahwa abrasi tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga fasilitas umum dan sektor pariwisata yang menjadi andalan daerah.
“Abrasi ini sudah hampir 300 meter lebih. Kami berharap penanganannya bisa secepat mungkin direalisasikan,” ujarnya.
Ia menyebut, pada tahun 2025 sempat tersedia anggaran untuk penanganan abrasi tersebut. Namun, pada tahun 2026 anggaran itu justru tidak lagi muncul, sehingga upaya penanganan belum dapat dilanjutkan.
“Padahal kemarin sudah ada anggarannya. Tapi sekarang tidak ada lagi. Ini yang kami khawatirkan,” katanya.
Indra menambahkan, dampak abrasi sudah mulai dirasakan secara nyata. Salah satunya adalah tergerusnya area di sekitar fasilitas umum, termasuk bangunan WC umum yang baru dibangun untuk menunjang kebutuhan wisatawan.
“Bangunan yang baru kita buat saja sudah terdampak lagi. Ini tentu sangat disayangkan,” ungkapnya.
Meski demikian, ia memastikan bahwa proses perizinan untuk penanganan abrasi sebagian besar telah rampung dan hanya menyisakan satu tahapan yang belum selesai.
“Kalau dari sisi perizinan sebenarnya sudah hampir lengkap. Tinggal sedikit lagi,” tambahnya.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Berau, Sa’ga, turut menyoroti belum adanya kejelasan anggaran penanganan abrasi di tahun 2026.
Ia menilai pemerintah daerah kurang serius dalam menangani persoalan yang berdampak langsung pada kawasan wisata unggulan tersebut.
“Kenapa saya bilang tidak serius, karena tahun 2025 sudah ada anggaran dan perencanaan berjalan. Tapi tiba-tiba di 2026 anggaran itu hilang,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi ini bertolak belakang dengan komitmen pemerintah daerah yang selama ini menyatakan fokus pada pengembangan sektor pariwisata.
Ia menilai, tanpa dukungan anggaran yang konsisten, upaya penanganan abrasi maupun pengembangan destinasi wisata akan sulit terealisasi secara maksimal.
“Kita sering bicara pariwisata, tapi tidak diikuti dengan keseriusan anggaran. Bahkan yang sudah ada saja tidak bisa dipertahankan,” ujarnya.
Sa’ga pun berharap agar pemerintah daerah segera mengembalikan fokus pada penanganan abrasi di Pulau Derawan, mengingat dampaknya yang terus meluas dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta sektor pariwisata.
“Jangan hanya jadi wacana. Harus ada tindak lanjut nyata agar penanganan abrasi ini benar-benar bisa terlaksana,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





