TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Keterbatasan anggaran tidak lantas memadamkan semangat pengembangan pariwisata di Kabupaten Berau.
Meski mengalami penurunan anggaran pada 2026, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau justru mendorong pengelola destinasi wisata untuk lebih mandiri dan inovatif dalam mengelola potensi yang dimiliki.
Dalam kesempatannya, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, mengungkapkan total anggaran Disbudpar pada 2026 hanya sebesar Rp44,87 miliar. Kondisi tersebut membuat pihaknya harus melakukan efisiensi serta penyesuaian terhadap sejumlah program yang telah direncanakan.
Namun demikian, Samsiah menegaskan keterbatasan anggaran seharusnya menjadi momentum perubahan pola pengelolaan destinasi wisata.
“Yang sudah dibangun itu harus menjadi modal awal. Jangan terus bergantung pada pemerintah daerah,” tegasnya.
Ia mencontohkan destinasi Batu-Batu yang kini telah dilengkapi berbagai amenitas pendukung, seperti plaza kuliner, dermaga wisata, hingga aktivitas susur sungai.
Menurutnya, fasilitas tersebut harus mulai dioptimalkan secara maksimal, termasuk dengan penerapan sistem retribusi sebagai sumber pendapatan berkelanjutan.
Hal serupa juga diterapkan di destinasi Air Panas Asin Pemapak yang telah memberlakukan tiket masuk. Pendapatan dari tiket tersebut dinilai dapat dimanfaatkan kembali untuk operasional destinasi, kontribusi retribusi kampung, hingga pengembangan fasilitas baru.
“Kita ingin destinasi wisata bisa mengelola dirinya sendiri secara bertahap,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Teknis Pengawas Kepariwisataan Disbudpar Berau, Andi Nusyamsi, menyebutkan bahwa pada 2026 pihaknya tidak menerima alokasi anggaran dari pemerintah provinsi maupun pusat.
Kondisi ini kata dia, memaksa Disbudpar menyusun ulang perencanaan agar program prioritas tetap berjalan dengan anggaran yang tersedia.
“Sejumlah rencana pengembangan dan promosi memang harus ditunda,” katanya.
Meski demikian, Disbudpar Berau tetap berkomitmen menjaga keberlanjutan sektor pariwisata dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor serta mengoptimalkan potensi lokal yang sudah ada di masing-masing destinasi. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





