TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Komisi X DPR RI bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Berau (UMB) melaksanakan workshop dalam langkah pencegahan dan penanganan kekkerasan di lingkungan Perguruan Tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan di Ball Room SM Tower pada Rabu (24/12/25).
Workshop yang dihadiri langsung oleh Ketua Komisi X DPR RI, Herifah Sjaifudian, Anggota DPRD Kaltim, Syarifatul Sya’diah, Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, dan seluruh peserta yang berasal dari mahasiswa UMB.
Dalam kesempatannya, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengemukakan tentang kesehatan mental dalam kekerasan baik fisik, psikis, maupun seksual.
“Kami harapkan kegiatan ini dapat menjadi percontohan untuk perlindungan terhadap mahasiswa terhadap kekerasan,” ujarnya.
Dirinya menyebut bahwa kekerasan seksual seringkali terjadi di kampus-kampus Perguruan Tinggi. Namun, kasus-kasus ini sangat sulit untuk dilaporkan.
“Kita seringkali melihat kekerasan, namun kita sangat jarang melakukan tindakan pelaporan,” bebernya.
Pihaknya menegaskan, karena kekerasan ini sangat darurat terutama di perguruan tinggi. Maka dari itu, pihaknya mendorong untutk implementasi aturan yang khusus mengatur permasalahan ini agar dapat diterapkan dengan masif.
“Kekerasan di kampus tidak hanya dapat ditangani oleh pihak kampus, karena beberapa kasus terakhir melibatkan para petinggi kampus seperti yang terjadi baru-baru ini,” jelasnya.
Kekerasan ini, kata Hetifah telah terjadi sangat banyak apalagi di Provinsi Kalimantan Timur. Khususnya di tahun 2023 terdapat lasus kekerasan dengan jumlah 1.008 kasus.
“Dari 1.008 kasus ini 6 persennya adalah kekerasan yang terjadi di Perguruan Tinggi,” tuturnya.
“Dari kasus kekerasan yang terjadi hanya 2 persen pelaku kekerasan yang berakhir di penjara,” sambungnya.
Pihaknya juga mendorong agar para mahasiswa yang ada di Kalimantan Timur khususnya di Kabupaten Berau. Agar dapat menjadi motor penggerak pencegahan kekerasan di Perguruan. Terlebih, terdapat Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Kekerasan di masing-masing kampus termasuk UMB.
“Karena Satgas UM Berau telah terbentuk, maka mereka harus aktif,l dan punya keberanian, walaupun memang banyak intervensi politik, ketika yang menjadi pelaku adalah kerabat pejabat kampus. Tapi, hal itu harus tetap dilakukan,” kuncinya.
Semetara itu, Wakil Rektor I UM Berau, Nahwani Fadelan yang menyampaikan ucapan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Terlebih, ini ialah bentuk perhatian Komisi X DPR RI yang berkomitmen terhadap pendidikan tinggi.
“Ini adalah bentuk komitmen dari legislatif dari legislatif dalam peningkatan kapasitas untuk pencegahan kekerasan di Pendidikan Tinggi,” katanya.
Pihaknya mengaku telah menyiapkan banyak hal dengan pemberian materi keislaman yang mendalam. Kemudian, beberapa langkah strategis untuk mencegah terjadinya pelecehan atau kekerasan.
“Kampus Muhammadiyyah telah menjalankan beberapa langkah untuk pencegahan kekerasan seksual, salah satunya dengan adanya satgas kekerasan,” terangnya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





