SANGATTA, PORTAL BERAU – Dinas Pariwisata Kutai Timur menetapkan penguatan ekonomi kreatif sebagai fokus utama program kerja tahun 2025.
Strategi ini diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai event yang diharapkan mampu menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha lokal.
Akhmad Rifanie, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, menuturkan bahwa sejumlah festival yang telah berjalan bertahun-tahun tetap dipertahankan karena memiliki kontribusi signifikan bagi UMKM.
Ia menyebut beberapa di antaranya seperti Festival Lomplang, Festival Bahari Muara Bengalon, dan Pesona Pantai Marang Kaliurang yang selalu menarik arus pengunjung.
“Event-event tersebut selama ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga dimanfaatkan UMKM, pedagang kuliner, dan pengelola akomodasi untuk meningkatkan pendapatan,” jelas Rifanie, Selasa (11/11/2025).
Pada tahun berjalan, Dispar Kutim juga menyiapkan agenda baru yang dinilai strategis untuk memperluas jangkauan sektor kreatif.
Rangkaian kegiatan itu meliputi Festival Pulau Bahari Nusantara di Pulo Miang, berbagai program di Embong Banyulangit dan Kombeng, serta Pekan Ekonomi Kreatif di Sangatta, dan seluruh agenda dirancang untuk memperkuat subsektor musik, film, hingga kerajinan khas daerah.
Selain menggelar event, Rifanie menegaskan bahwa pembinaan terhadap pelaku kreatif menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program 2025.
Dukungan diberikan kepada musisi, pembuat film, dan kreator lokal untuk meningkatkan produksi konten serta memperluas distribusi karya mereka di platform digital, baik Instagram maupun YouTube.
Ia menilai penyelenggaraan event secara rutin membawa efek langsung terhadap perekonomian warga. “Setiap kali ada event, aktivitas ekonomi meningkat drastis UMKM ramai, kuliner penuh, hingga hotel kehabisan kamar. Jika event berhenti, peluang itu ikut menghilang,” terangnya.
Meski memperbanyak agenda, Dinas Pariwisata memastikan setiap kegiatan tetap mengedepankan kualitas.
Event tidak hanya dibuat sebagai program rutin, melainkan harus mengangkat identitas budaya lokal dan memberikan kontribusi nyata terhadap citra Kutai Timur sebagai wilayah dengan potensi kreatif.
Beberapa festival unggulan Kutim seperti Lom Plai bahkan telah menembus pengakuan nasional dan internasional.
Capaian tersebut dinilai menjadi dorongan penting bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan standar penyelenggaraan event di tahun-tahun mendatang.
Rifanie juga membuka ruang bagi desa dan komunitas lokal yang ingin mengajukan event berbasis budaya.
“Selama perencanaan matang dan konsep jelas, pemerintah siap memberikan dukungan agar kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi pariwisata dan ekonomi kreatif Kutai Timur,” tutupnya.(ADV)
Editor: Ikbal Nurkarim





