TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Wisata Air Panas Asin Pemapak Biatan hingga saat ini terus dilakukan pengembangan. Bahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau pun menambahkan usulan sebesar Rp 5 miliar untuk pengembangan tersebut.
Tahun lalu, perbaikan di Air Panas Asin Pemapak dilakukan menggunakan Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBH-DR) senilai Rp 4,7 miliar. Setelah itu, Pemkab Berau telah meresmikan destinasi wisata tersebut pada Mei lalu.
Adapun perkembangan dari pengembangan tersebut hingga saat ini baru mencapai 40 persen dari perencanaan yang telah dilakukan. Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau Samsiah melalui Staf Teknis/Pengawas Kepariwisataan, Andi Nursyamsi mengatakan bahwa Dispudpar kembali mengusulkan adanya tambahan anggaran pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2025 mendatang sebesar Rp 5 miliar.
“Usulan tersebut sepertinya tidak disetujui sebesar nominal tersebut,” ucapnya baru-baru ini.
Disbudpar saat ini tengah memerhatikan tutupan lahan hijau yang dianggap masih kurang. Kemudian, hal lain seperti penambahan gazebo, serta jalur pintu keluar. Hal tersebut dikarenakan jalur masuk dan keluar hingga saat ini hanya menggunakan satu jalur untuk digunakan pengunjung.
“Maka jalur pintu keluar ini perlu ditambah dijalur yang berbeda dengan pintu masuk,” ungkapnya.
Dijelaskannya, dari luas total 12 hektare (ha) lahan yang ada di wisata Air Panas Asin Pemapak belum berfungsi dan berguna secara maksimal. Oleh karena itu, menurut pihaknya perlu adanya pemanfaatan lahan tersebut namun memerlukan tambahan dana untuk tahun depan.
“Jika semua termanfaatkan, para pengunjung ditarget keluar dari destinasi melakui jalur pintu keluar sembari melihat daya tarik lain yang ada disekitarnya,” jelasnya.
Pihaknya pun merencanakan untuk penambahan satu kolam air panas lagi. Hal ini dilakukan sebagaimana permintaan Bupati Berau, Sri Juniarsih yang ingin memisahkan antara kolam laki-laki dan perempuan. Ditempat itu pun akan ditambahkan amfiteater yang dapat digunakan sebagai tempat terbuka untuk pertunjukan, hiburan dan sebagainya.
“Ketika malam hari lebih bagus karena akan ditambahkan lampu-lampu di sana,” tuturnya.
“Apalagi orang jarang menginap di Biatan. Kebanyakan pengunjung singgah sebentar baru lanjut ke Bidukbiduk,” sambungnya.
Hal ini dilakukan agar para wisata dapat nerlibur dan menginal di Biatan. Agar, dapat terjadi multiplier efek yang lebih besar terhadap masyarakat yang berada disekitar lokasi tersebut. Saat ini disebutnya, mulai banyak homestay yang dibangun oleh masyarakat.
Ia pun memberikan apresiasi terhadap pemerintah kampung yang telah mengelola wisata Air Panas Asin Biatan ini melalui badan usaha milik kampung (BUMK) dan melakukan sinergi dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), agar pendapatan asli kampung meningkat.
“Yang membuat kami senang, begitu diresmikan mereka tidak bergantung dengan kami. Tapi memanfaatkan uang pemasukan dan berinisiatif membeli sendiri,” terangnya.
Padahal mesi air yang berada di wosata tersebut telah 2 kali dicuri. Dikarenakan pengamanan yang belum maksimal, terlebih belum ada pemagaran keliling di sana. Makanya, hal itupun menjadi perhatian untuk melanjutkan pembangunan Air Panas Asin Pemapak. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





