TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Penguatan pendampingan peternak dan optimalisasi layanan kesehatan hewan dinilai penting untuk mendorong perkembangan sektor peternakan di Kabupaten Berau.
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, meminta layanan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dimanfaatkan secara maksimal agar peternak lebih mudah mendapatkan bantuan saat menghadapi kendala.
Menurut Dedet sapaan akrabnya, pendampingan yang selama ini dilakukan perlu diiringi komitmen yang lebih kuat dari pemerintah daerah, terutama dalam memastikan peternak memperoleh akses konsultasi dan penanganan teknis ketika muncul persoalan dalam usaha yang dijalankan.
Ia menilai, Puskeswan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memiliki peran strategis sebagai tempat bagi peternak untuk berkonsultasi, khususnya ketika menghadapi gangguan kesehatan pada hewan ternak maupun hewan peliharaan.
“Pendampingan memang sudah berjalan, tetapi komitmennya harus diperkuat. Layanan Puskeswan juga bisa menjadi salah satu pintu ketika peternak mengalami kesulitan,” ujarnya.
Dedet menegaskan, upaya pengembangan sektor peternakan tidak cukup hanya melalui pendampingan di lapangan. Organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga perlu memastikan fasilitas dan layanan yang tersedia benar-benar dapat diakses serta dimanfaatkan oleh masyarakat.
Ia menyebut, kemudahan memperoleh informasi dan bantuan teknis menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah persoalan peternakan berkembang menjadi lebih serius. Karena itu, peternak diharapkan segera berkonsultasi ketika menemukan gejala penyakit atau kendala lain yang berpotensi mengganggu produktivitas ternak.
“Kalau peternak mengalami sesuatu, bisa secepatnya dikonsultasikan. Harapannya jangan sampai timbul kerugian kalau masih bisa dicegah melalui layanan yang dimiliki Pemkab Berau,” tegasnya.
Ia berharap sinergi antara petugas pendamping lapangan, Puskeswan, dan OPD terkait dapat diperkuat sehingga penanganan persoalan peternakan berjalan lebih efektif. Selain membantu mengatasi gangguan kesehatan hewan, dukungan tersebut diharapkan memberikan kepastian bagi peternak dalam mengakses layanan pemerintah.
Dengan pendampingan yang berkesinambungan dan layanan kesehatan hewan yang mudah dijangkau, sektor peternakan di Berau diharapkan semakin berkembang dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, sebelumnya menyampaikan bahwa layanan Puskeswan yang dibuka melalui stan DTPHP pada Berau Expo 2026 mendapat respons positif dari masyarakat.
Sejak hari pertama pameran, sejumlah pemilik hewan mendatangi stan tersebut untuk berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan serta penanganan hewan peliharaan mereka.
“Iya, kami membuka layanan Puskeswan di stan DTPHP pada Berau Expo 2026. Ini sebagai sarana edukasi kesehatan hewan peliharaan maupun hewan ternak,” kata Lita.
Ia menjelaskan, layanan tersebut menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan hewan, baik yang dipelihara di rumah maupun yang dibudidayakan untuk menunjang usaha peternakan.
Saat ini, Kabupaten Berau memiliki enam unit Puskeswan yang tersebar di Kecamatan Segah, Sambaliung, Gunung Tabur, Biatan, Talisayan, dan Batuputih. Seluruh unit tersebut melayani kebutuhan kesehatan hewan ternak maupun hewan peliharaan.
Masyarakat dapat mendatangi Puskeswan terdekat untuk berkonsultasi dan memperoleh penanganan. Apabila diperlukan, petugas juga dapat melakukan kunjungan langsung ke lokasi peternakan, terutama untuk menangani hewan ternak berukuran besar seperti sapi dan kambing.
Lita menambahkan, pelayanan kesehatan hewan diberikan secara gratis selama persediaan obat-obatan masih tersedia. Jenis layanan yang diberikan meliputi pengobatan dan vaksinasi sesuai kebutuhan serta kapasitas fasilitas yang dimiliki.
Namun, untuk tindakan sterilisasi hewan peliharaan seperti kucing dan anjing, saat ini Puskeswan Berau belum dapat memberikan pelayanan karena keterbatasan ruang tindakan dan peralatan pendukung.
“Untuk program steril hewan peliharaan seperti kucing dan anjing, karena keterbatasan ruang tindakan, belum bisa melayani. Kalau steril, masyarakat bisa ke klinik praktik dan layanan itu berbayar,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat yang membutuhkan layanan sterilisasi dapat mendatangi klinik hewan yang menyediakan tindakan tersebut. Sementara untuk konsultasi kesehatan, pengobatan, dan vaksinasi, masyarakat tetap dapat memanfaatkan fasilitas Puskeswan sesuai jenis layanan yang tersedia.
Lita pun mengimbau pemilik hewan peliharaan maupun peternak agar tidak ragu berkonsultasi dengan petugas ketika menemukan gangguan kesehatan pada hewan.
Keberadaan enam unit Puskeswan di Berau diharapkan semakin memudahkan masyarakat memperoleh informasi dan penanganan kesehatan hewan, sekaligus mendukung upaya pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan ternak dan mengembangkan sektor peternakan secara berkelanjutan. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Dedy Warseto





