TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Kuliner tradisional Kabupaten Berau mulai diarahkan untuk mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda. Upaya ini dilakukan untuk menjaga resep, cita rasa, sejarah, sekaligus identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau kini mulai menginventarisasi sejumlah kuliner tradisional yang dinilai memiliki nilai sejarah dan keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat serta budaya keraton di Bumi Batiwakkal.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan proses tersebut tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Pemerintah daerah perlu memastikan setiap kuliner yang akan diusulkan memiliki sejarah, asal-usul dan pakem yang jelas.
“Pakemnya kita susun dulu. Kita ingin memastikan makanan yang diajukan memang memiliki identitas dan dasar sejarah yang kuat,” ujar Yudha.
Menurutnya, penyusunan pakem akan melibatkan tokoh budaya, termasuk Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk menggali sejarah, asal-usul serta menyepakati karakter dan tata cara penyajian kuliner yang akan diusulkan.
Setelah proses inventarisasi dan penyusunan pakem rampung serta mendapat kesepakatan bersama, Disbudpar akan melanjutkan tahapan pengajuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
“Nanti kita lihat dulu. Kalau sudah fix, baru kita daftarkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda. Ke depan arahnya ke sana,” katanya.
Yudha menilai, kuliner tradisional tidak sekadar berbicara mengenai makanan. Di dalamnya terdapat cerita tentang sejarah, tradisi dan kehidupan sosial masyarakat yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Selama ini, ancur paddas dan puncak rasul dikenal sebagai dua kuliner khas Berau. Namun, menurut Yudha, kekayaan kuliner daerah tidak berhenti pada dua jenis makanan tersebut.
Berbagai kue tradisional dan makanan yang diwariskan secara turun-temurun juga dinilai memiliki peluang untuk diangkat sebagai bagian dari identitas budaya Berau. Karena itu, proses inventarisasi akan diperluas untuk menemukan kuliner yang memiliki nilai sejarah dan keterkaitan kuat dengan budaya lokal.
“Kita lihat dulu karena jenisnya macam-macam. Pakemnya akan kita satukan terlebih dahulu. Setelah disepakati bersama, baru itu yang kita ajukan,” jelasnya.
Upaya pelestarian tersebut juga dinilai dapat memperkuat sektor pariwisata Berau. Kuliner yang memiliki cerita dan identitas lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Pengembangan tersebut, kata Yudha, tetap harus mempertahankan karakter dan nilai tradisional yang melekat pada setiap kuliner.
“Dengan demikian, pelestarian kuliner kita tidak hanya berbicara tentang menjaga resep lama, tetapi juga bagaimana warisan tersebut tetap hidup, dikenal, dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat Berau di masa mendatang,” pungkasnya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




