TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Pemkab Berau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi perhatian pemerintah daerah di tengah kondisi udara yang terdampak asap.
Dalam kesempatannya, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, meminta masyarakat tidak menganggap sepele paparan asap karhutla. Terlebih, kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia dinilai memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk.
“Kita tidak ingin persoalan karhutla ini kemudian menimbulkan masalah baru, terutama terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, selain terus melakukan penanganan dan pemadaman, kita juga meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap,” ungkap Sri.
Ia mengatakan, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan upaya memadamkan titik api. Dampak lanjutan terhadap kesehatan masyarakat juga harus menjadi perhatian pemerintah bersama seluruh pihak.
Karena itu, kata dia, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi asap semakin pekat. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah.
“Kalau kondisi udara kurang baik dan asap cukup pekat, sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar ruangan. Ini bagian dari ikhtiar kita bersama untuk menjaga kesehatan,” katanya.
Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, kasus ISPA menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) mencatat 2.714 kasus pada minggu ke-19 hingga minggu ke-23 tahun 2026.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 3.012 kasus pada minggu ke-24 sampai minggu ke-28. Selanjutnya, memasuki minggu ke-29 hingga minggu ke-33 atau periode Agustus, kasus ISPA kembali meningkat menjadi 3.587 kasus.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meluasnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah Berau dan kondisi udara yang mulai dipengaruhi asap.
Sri Juniarsih menegaskan Pemkab Berau akan terus berkoordinasi dengan perangkat daerah dan instansi terkait untuk memantau perkembangan karhutla sekaligus dampaknya terhadap masyarakat.
“Penanganan karhutla ini membutuhkan kerja sama semua pihak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk mencegah munculnya titik api dan menjaga lingkungan di sekitarnya,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kondisi yang berpotensi memicu kebakaran. Menurutnya, langkah pencegahan sejak dini sangat diperlukan agar karhutla tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Di sisi lain, masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan seperti batuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya diimbau segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Kita akan memastikan upaya penanganan karhutla akan terus dilakukan secara terpadu, dengan mempertimbangkan tidak hanya aspek lingkungan dan keselamatan, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat kita,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




