TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Kepedulian terhadap masyarakat penderita penyakit jantung terus menjadi perhatian Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Kabupaten Berau.
Ketua TP PKK Kabupaten Berau sekaligus Ketua YJI Berau, Sri Aslinda Gamalis, melakukan kunjungan langsung kepada pasien penyakit jantung yang menjalani perawatan di ruang ICU RSUD dr Abdul Rivai.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya YJI Berau untuk melihat secara langsung kondisi pasien sekaligus mendorong peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Sri Aslinda mengatakan, YJI Berau sebelumnya juga telah membantu sejumlah pasien penyakit jantung untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut di luar daerah.
“Beberapa bulan yang lalu, Alhamdulillah kami bisa membantu pasien penyakit jantung untuk dirujuk ke Samarinda. Kemudian kami juga bekerja sama dengan YJI Provinsi untuk dirujuk ke Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta. Alhamdulillah bisa ditangani,” ujarnya.
Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas dan tenaga medis, tetapi juga bagaimana masyarakat mendapatkan pelayanan dengan sikap yang ramah dan penuh ketulusan.
Ia berharap seluruh jajaran pelayanan kesehatan dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan, termasuk memberikan perhatian kepada pasien maupun keluarga yang datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan.
“Tentu kami berharap supaya pelayanan masyarakat lebih ditingkatkan lagi. Melayani dengan hati yang tulus, dengan senyum. Memang kita perlu sabar untuk melayani masyarakat,” katanya.
Sri Aslinda menilai pasien yang datang ke rumah sakit tentu bukan dalam kondisi sehat. Karena itu, keramahan dan kesabaran petugas menjadi bagian penting agar pasien merasa nyaman selama menjalani pemeriksaan maupun perawatan.
“Intinya pelayanan tentu ditingkatkan lagi. Termasuk kebersihan. Saya lihat juga sudah bagus, ada beberapa ruangan. Di UGD juga ruangannya sudah sangat luas dan sudah dipilah-pilah mana pasien yang mungkin harus emergency,” jelasnya.
Dirinya menyebut, tidak hanya melakukan kunjungan, YJI Kabupaten Berau juga telah menyiapkan sejumlah program yang akan dilaksanakan di lapangan. Salah satunya berkaitan dengan peringatan Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September.
Sri Aslinda menyebut kegiatan peringatan di Berau akan dilaksanakan pada 27 September mendatang dengan menghadirkan sejumlah kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Kami akan memperingati tanggal 27 September. Tentunya kami akan memberikan pelayanan secara gratis kepada masyarakat, salah satunya itu,” ungkapnya.
Selain pelayanan gratis, YJI Berau juga akan menggelar kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung.
“Kemudian juga kita memberikan motivasi, bersama-sama kita mengadakan senam jantung sehat,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni, tetapi dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat serta melakukan pencegahan sejak dini.
Sementara itu, Direktur RSUD dr Abdul Rivai, dr Joesram, mengungkapkan adanya perkembangan positif dalam penguatan layanan jantung di Berau.
Diakuinya, dalam enam bulan terakhir, RSUD dr Abdul Rivai telah mendapatkan tambahan tenaga dokter spesialis jantung. Saat ini, rumah sakit tersebut memiliki tiga dokter jantung, terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan.
Namun, salah satu dokter laki-laki saat ini tengah menjalani pendidikan di China. Pendidikan tersebut dipersiapkan untuk mendukung rencana pengembangan layanan kateterisasi jantung di Berau.
“Sekarang kita sudah punya di Berau tiga dokter jantung, dua laki-laki dan satu perempuan. Cuma satu laki-laki ini sedang berangkat pendidikan di China,” jelas Joesram.
Pendidikan tersebut menjadi bagian dari persiapan sumber daya manusia sebelum RSUD dr Abdul Rivai mendapatkan dukungan peralatan kateterisasi jantung dari Kementerian Kesehatan.
Joesram berharap proses pendidikan tersebut dapat selesai pada pertengahan tahun depan sehingga pengadaan alat kateterisasi jantung dapat segera direalisasikan.
“Mudah-mudahan nanti pertengahan tahun depan sudah selesai. Kemudian alatnya juga bisa di-dropping ke Berau,” katanya.
Dikatakannya juga, kateterisasi jantung digunakan untuk mengetahui kondisi pembuluh darah jantung, khususnya mendeteksi adanya penyumbatan.
Dalam pemeriksaan tersebut, kata dia, dokter dapat melihat lokasi penyumbatan sekaligus mengetahui tingkat atau persentase penyumbatan pada pembuluh darah.
“Kateterisasi jantung biasanya dipakai untuk memeriksa adanya penyumbatan di pembuluh darah jantung. Bahasa dokternya angiografi. Jadi kita meneropong tempat atau lokasi di mana terjadi penyumbatan dan di situ juga bisa diukur berapa persen penyumbatannya,” terang Joesram.
Saat ini, layanan tersebut belum tersedia di RSUD dr Abdul Rivai. Pasien yang membutuhkan pemeriksaan maupun tindakan kateterisasi masih harus dirujuk ke sejumlah rumah sakit di luar daerah, seperti Tarakan, Balikpapan, dan Samarinda.
Layanan kateterisasi juga dibutuhkan untuk tindakan intervensi tertentu pada jantung, termasuk pemasangan ring pada pembuluh darah yang mengalami penyumbatan.
Joesram menambahkan, penyakit jantung menjadi salah satu layanan yang saat ini diprioritaskan RSUD dr Abdul Rivai untuk terus dikembangkan.
Selain penyakit jantung, rumah sakit juga memberikan perhatian terhadap layanan bagi pasien gagal ginjal dan kanker.
“Yang saat ini di rumah sakit kami prioritaskan untuk peningkatan layanannya adalah pasien-pasien penderita gagal ginjal, pasien penderita kanker, dan yang ketiga pasien dengan penyakit jantung,” ujarnya.
Untuk penyakit ginjal, penguatan layanan diarahkan pada pelayanan cuci darah. Sementara untuk pasien kanker, rumah sakit tengah mempersiapkan pengembangan layanan kemoterapi. Sedangkan untuk penyakit jantung, salah satu target utamanya adalah menghadirkan layanan kateterisasi.
Kebutuhan terhadap layanan tersebut dinilai cukup tinggi. Pasalnya, rujukan pasien penyakit jantung dari Berau ke luar daerah masih tergolong banyak.
Joesram menyebut tingginya kasus penyakit jantung di Berau tidak terlepas dari banyaknya masyarakat yang mengalami faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi.
“Rujukannya lumayan banyak untuk pasien-pasien jantung. Karena di Berau prevalensi pasien diabetes dan hipertensi sangat banyak. Dan itu sebenarnya sumber penyebabnya,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





