TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Wakil Bupati Berau, Gamalis, melakukan kunjungan ke RSUD dr Abdul Rivai dan menyoroti tingginya kebutuhan layanan hemodialisa (cuci darah) yang saat ini masih terkendala keterbatasan ruang pelayanan.
Dalam peninjauan tersebut, Gamalis melihat langsung kondisi ruang hemodialisa yang setiap hari melayani pasien gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah secara rutin. Menurutnya, jumlah tempat tidur yang tersedia saat ini belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat.
“Ketika kami melihat langsung pelayanan di sana, ternyata persoalan utamanya bukan pada alat atau tenaga kesehatan, tetapi keterbatasan ruang. Mesin ada, SDM ada, bahkan kerja sama operasional juga sudah siap. Yang kurang hanya ruang pelayanan,” ungkap Gamalis.
Ia menjelaskan, saat ini ruang hemodialisa hanya memiliki delapan tempat tidur yang digunakan sesuai standar operasional pelayanan kesehatan. Akibatnya, antrean pasien terus terjadi, terutama bagi pasien yang membutuhkan cuci darah secara berkala.
“Pasien cuci darah ini bukan pasien biasa. Mereka harus menjalani terapi rutin dua kali dalam seminggu. Dengan kapasitas yang ada sekarang, kita masih kewalahan melayani pasien yang sudah terdaftar,” katanya.
Gamalis menerangkan, sekitar 50 persen pasien hemodialisa merupakan pasien rutin yang membutuhkan layanan berkelanjutan. Kondisi tersebut membuat rumah sakit kesulitan menerima pasien tambahan, termasuk warga dari luar daerah yang sedang berada di Berau dan membutuhkan layanan cuci darah.
“Sering ada pasien dari luar daerah yang datang ke Berau untuk urusan keluarga atau pekerjaan. Mereka juga membutuhkan layanan cuci darah di sini. Namun karena kapasitas terbatas, rumah sakit kesulitan memberikan slot pelayanan,” jelasnya.
Ia menyebut, sebagai solusi, Pemkab Berau mendorong optimalisasi pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada, termasuk mengaktifkan kembali beberapa ruangan di Gedung Walet yang dinilai berpotensi mendukung pengembangan layanan kesehatan.
Menurutnya, apabila fasilitas pendukung di Gedung Walet telah dilengkapi, sejumlah layanan atau ruangan yang saat ini berada di RSUD dr Abdul Rivai dapat dipindahkan ke lokasi tersebut. Dengan demikian, ruang yang tersedia di rumah sakit utama bisa dimanfaatkan untuk memperluas layanan hemodialisa.
“Kalau ruangan di Gedung Walet sudah siap, beberapa layanan bisa dipindahkan ke sana. Ruang yang kosong di Abdul Rivai nantinya dapat digunakan untuk penambahan layanan cuci darah. Ini langkah konkret yang sedang kita dorong,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa penambahan kapasitas layanan hemodialisa menjadi kebutuhan mendesak mengingat tren peningkatan pasien gagal ginjal yang terus terjadi.
Gamalis menambahkan, Pemkab Berau berkomitmen mendukung pengembangan fasilitas kesehatan agar masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih optimal tanpa harus menunggu antrean panjang.
“Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana menyediakan ruang yang memadai. Kalau itu sudah terpenuhi, maka pengembangan layanan hemodialisa bisa segera berjalan dan masyarakat akan lebih mudah mendapatkan pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





