TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Sebanyak 20 siswa tunarungu dari SLB Negeri Tanjung Redeb akan ambil bagian dalam program “Waktunya Main” Workshop dan Pertunjukan Teater Anak Inklusi yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026 mendatang.
Program tersebut menjadi wadah kreatif yang menggabungkan seni pertunjukan dan literasi untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Berau. Kegiatan ini digagas oleh anggota Komunitas Literasi Gerobooks Berau, Fillah M Rosyadaa, melalui dukungan Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV tahun 2026.
Program tersebut dirancang khusus sebagai ruang belajar sekaligus ruang berekspresi bagi siswa tunarungu tingkat SD hingga SMA. Tidak hanya berfokus pada pertunjukan teater, kegiatan ini juga menanamkan pendekatan inklusif dan literasi dalam setiap proses kreatifnya.
Menurut Fillah, teater memiliki peran penting dalam membantu perkembangan anak, terutama dalam membangun keberanian dan kemampuan sosial.
“Seni teater bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga media belajar yang mampu melatih kreativitas, rasa percaya diri, dan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya,” ujarnya baru-baru ini.
Ia menilai teater merupakan ruang yang terbuka bagi siapa saja, termasuk anak-anak penyandang disabilitas yang selama ini masih minim kesempatan untuk tampil dalam kegiatan seni pertunjukan.
“Anak-anak berkebutuhan khusus sering kali belum memperoleh ruang yang setara untuk menunjukkan kemampuan dan ekspresi diri mereka di bidang seni,” katanya.
Melalui program “Waktunya Main”, para peserta akan diajak mengikuti proses kreatif teater secara langsung, mulai dari latihan ekspresi, gerak, hingga bermain peran. Kegiatan ini diharapkan menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus sarana membangun hubungan sosial yang lebih luas.
“Kami ingin menciptakan perjumpaan yang hangat antara teman dengar dan teman tuli melalui pertunjukan teater,” jelasnya.
Salah satu hal yang menjadi daya tarik program ini adalah penggabungan unsur literasi dalam proses pertunjukan. Cerita yang akan dipentaskan berasal dari buku cerita bergambar berjudul Kue Itu Bernama Sarang Semut karya Renata Andini Pangesti dengan ilustrasi oleh Uswah Aprilia.
Cerita tersebut nantinya dialihwahanakan menjadi pertunjukan teater anak yang dimainkan langsung oleh peserta didik tunarungu.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi media pembelajaran yang menyeluruh bagi ABK, mulai dari pengembangan kemampuan komunikasi verbal maupun nonverbal, keterampilan sosial, hingga kemampuan menyampaikan gagasan dan emosi melalui seni peran.
“Anak-anak tidak hanya membaca cerita, tetapi juga menghidupkannya lewat gerak, ekspresi, dan karakter yang mereka perankan sendiri,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





